PEKANBARU, RIAU24JAM.COM – Siang itu, pertengahan Juni 2026, Mutmainah tampak tekun memperhatikan setiap gerakan instruktur yang dengan cekatan meracik media tanam jamur tiram atau baglog. Bersama sejumlah anggota Kelompok Pembudidaya Jamur Tiram UMKM Seroja dari Desa Rimba Beringin, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, ia mengikuti kegiatan benchmarking dan pelatihan intensif di Rumah Jamur Bertuah, Pekanbaru.
Bagi para pelaku usaha desa tersebut, pelatihan ini bukan sekadar ruang belajar, melainkan ikhtiar untuk memperkuat fondasi usaha agar mampu tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya mempelajari teknik pembuatan baglog, tetapi juga dibekali pemahaman menyeluruh mengenai standar pengolahan bahan baku, formulasi media tanam yang tepat, hingga teknik pengemasan yang kokoh guna menghasilkan media tanam berkualitas.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Setiap sesi dimanfaatkan untuk menyerap pengetahuan baru yang diyakini dapat menjawab berbagai tantangan teknis yang selama ini dihadapi kelompok.
Keterampilan membuat baglog secara mandiri menjadi salah satu aspek penting yang dipelajari. Kemampuan tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar, menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi usaha, sekaligus menjaga konsistensi kualitas budidaya.
Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan lingkungan budidaya, mulai dari pengaturan suhu dan kelembapan kumbung, penerapan sanitasi yang baik, hingga kemampuan mengidentifikasi karakteristik jamur tiram yang sehat, higienis, dan produktif.
Penguatan kapasitas tersebut menjadi jawaban atas berbagai kendala operasional yang selama ini muncul akibat keterbatasan pengetahuan teknis. Kini, bekal keterampilan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan mampu diterapkan langsung pada fasilitas budidaya yang mereka kelola di Desa Rimba Beringin.
“Selama ini kami sering menghadapi kendala teknis dalam operasional budidaya karena keterbatasan pengetahuan. Melalui pelatihan ini kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang teknik budidaya, pengelolaan kumbung, hingga cara menjaga kualitas produksi. Ini memberikan optimisme dan motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan produktivitas serta berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi desa,” ujar Mutmainah, Senin (22/6/2026).
Kegiatan benchmarking dan pelatihan pembuatan baglog mandiri tersebut terlaksana atas dukungan penuh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan melalui Program Pemberdayaan UMKM, Pemuda, dan Perempuan.
Program ini merupakan bagian dari upaya strategis perusahaan dalam memperkuat kapasitas kelompok usaha masyarakat agar mampu berkembang secara berkelanjutan, memiliki daya saing, serta menjadi penggerak ekonomi lokal.
Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan investasi sosial yang memiliki dampak jangka panjang bagi kemandirian ekonomi desa.
“Melalui kegiatan benchmarking dan pelatihan ini, Kelompok UMKM Seroja semakin siap mengembangkan budidaya jamur tiram secara mandiri. Penguatan kapasitas merupakan wujud nyata komitmen PHR dalam mendukung kemandirian usaha masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi desa yang berkelanjutan,” kata Iwan.
Pendampingan terhadap Kelompok UMKM Seroja dilakukan secara bertahap dan konsisten sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem usaha berbasis potensi lokal di Provinsi Riau.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, Kelompok Pembudidaya Jamur Tiram UMKM Seroja kini hadir sebagai simbol tumbuhnya harapan baru dari desa. Kisah mereka menunjukkan bahwa ketika potensi lokal dipadukan dengan pendampingan yang tepat, maka lahirlah kekuatan ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.**
Tentang PHR Zona Rokan
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri pada 20 Desember 2018 dan menerima amanah dari Pemerintah Republik Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.
PHR melaksanakan proses alih kelola dari operator sebelumnya secara selamat, lancar, dan andal. Perusahaan mendapat mandat untuk mengelola Zona Rokan selama 20 tahun, terhitung sejak 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Wilayah operasi Zona Rokan mencakup area seluas sekitar 6.200 kilometer persegi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Saat ini terdapat 80 lapangan aktif dengan lebih dari 11.300 sumur dan 35 gathering station. Zona Rokan berkontribusi sekitar seperempat produksi minyak mentah nasional atau sepertiga produksi minyak Pertamina.
Selain menjalankan peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional, PHR juga mengelola program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pelestarian lingkungan.







Kolom Komentar post