PINGGIR, RIAU24JAM.COM – Jika Kuantan Singingi punya Pacu Jalur yang mengikat denyut budaya masyarakat di sepanjang aliran sungai, maka Bengkalis memiliki Pacu Sampan, tradisi yang bukan sekadar adu cepat di atas air, melainkan sebuah cerita tentang kebersamaan yang terus dikayuh dari generasi ke generasi.
Di Desa Wisata Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, riak air berubah menjadi panggung kebudayaan. Sempena Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Festival Kemerdekaan kembali menyuguhkan Pacu Sampan, sebuah tradisi rakyat yang memadukan semangat kompetisi dengan kekuatan gotong royong.
Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni, S.Sos., M.MP., membuka sekaligus melepas Pacu Sampan tersebut. Di hadapan masyarakat, ia menegaskan bahwa tradisi itu memiliki makna yang jauh melampaui garis finis.
“Tradisi ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi simbol kekompakan, gotong royong, sportivitas dan semangat pantang menyerah,” ujar Kasmarni, Rabu (19/8/2026).
Sebab di atas sampan, tak ada ruang bagi ego yang berjalan sendiri. Setiap dayung harus menemukan irama, setiap tenaga harus bertemu arah, dan setiap orang harus percaya kepada yang lain. Dari situlah Pacu Sampan menemukan makna terdalamnya: menang bukan semata karena siapa yang paling kuat, tetapi karena siapa yang mampu bergerak dalam satu irama.
Pacu Sampan Balai Pungut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Desa Balai Pungut bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong potensi budaya dan wisata desa agar tidak berhenti sebagai warisan yang dikenang, tetapi berkembang menjadi kekuatan yang menghidupkan ekonomi masyarakat.
Bagi Kasmarni, kebudayaan dan pembangunan bukan dua jalan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan dalam satu arus: budaya menjadi akar, pariwisata menjadi ruang tumbuh, sementara ekonomi masyarakat menjadi buah yang diharapkan.
“Dari tradisi, kita jaga budaya. Dari wisata, kita tumbuhkan ekonomi. Dari kolaborasi, kita bangun Bengkalis,” tegasnya.
Pesan itu menemukan bentuknya di Balai Pungut. Sampan-sampan berpacu, dayung menghantam air, sorak masyarakat membelah tepian sungai. Namun yang sesungguhnya sedang dipacu bukan hanya sampan.
Yang sedang dikayuh adalah ingatan tentang budaya. Yang sedang didorong adalah masa depan pariwisata. Dan yang sedang dibangun adalah kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Kasmarni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga tradisi sekaligus menjadikannya bagian dari denyut pembangunan daerah.
“Mari lestarikan budaya, majukan pariwisata dan terus bergerak bersama menuju Bengkalis yang Bermarwah, Maju dan Sejahtera,” pungkasnya.
Dari Balai Pungut, sebuah pesan mengalir bersama riak sungai: tradisi tak boleh karam oleh zaman. Ia harus terus dikayuh, dijaga budayanya, dikembangkan wisatanya, dan diperkuat ekonominya.
Sebab selama masyarakat masih mau mengayuh bersama, Bengkalis akan selalu memiliki cara untuk bergerak menuju masa depan.
(Rb/R24j)








Kolom Komentar post