PINGGIR, RIAU24JAM.COM — Tidak semua perpisahan hanya meninggalkan kesedihan. Ada pula perpisahan yang justru menyisakan jejak pengabdian, kenangan, serta harapan yang kelak tumbuh menjadi cerita tentang perjalanan hidup.
Suasana haru dan khidmat menyelimuti acara pelepasan dan perpisahan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 di Desa Muara Basung, Kecamatan Pinggir, yang digelar pada Sabtu malam.
Mahasiswa KKN dari tiga perguruan tinggi secara resmi menuntaskan masa pengabdian mereka di tengah masyarakat Desa Muara Basung. Ketiganya berasal dari STAI Hubbulwathan Duri, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, dan Universitas Abdurrab.
Kepala Desa Muara Basung, Akhyar Mukmin, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan program KKN Tahun 2026.
Ia mengapresiasi dedikasi serta kontribusi para mahasiswa yang selama menjalankan pengabdian telah ikut mengambil bagian dalam berbagai program pembangunan dan kegiatan sosial di desa.
Menurut Akhyar Mukmin, kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas akademik, tetapi juga telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN yang telah berdedikasi dan berkontribusi membantu berbagai program di Desa Muara Basung, baik dalam bidang sosial kemasyarakatan, pendidikan, keagamaan, peningkatan ekonomi maupun keterampilan masyarakat,” ujarnya.
Namun lebih dari sekadar seremoni pelepasan, malam itu juga menjadi ruang perenungan.
Akhyar Mukmin berpesan agar para mahasiswa tidak hanya membawa pulang pengalaman dan kenangan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang ditemui selama berada di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan seseorang tidak boleh membuatnya larut dalam pujian dan sanjungan.
Dalam pesan yang disampaikan dengan nuansa penuh makna, Akhyar Mukmin mengutip petuah:
Dalam kehidupan ini,
Janganlah mau disanjung-sanjung,
Engkau digelar manusia agung,
Sadarlah diri tahu diuntung,
Sebelum masa keranda diusung.
Bagi Akhyar, pesan tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengingat bahwa manusia harus tetap menjejak bumi meskipun berada dalam puncak pujian dan penghormatan.
Kesombongan, kata dia, tidak pernah menjadi tanda kemuliaan. Sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang tidak sempurna dan perjalanan hidup pada akhirnya akan sampai pada satu titik yang sama.
“Jangan sombong ketika kita disanjung oleh orang lain. Tetaplah introspeksi diri, karena kita ini insan yang tidak sempurna dan harus selalu bersyukur. Ingatlah bahwa kemuliaan dan sanjungan dunia akan berakhir ketika ajal menjemput,” pesannya.
Akhyar juga mengajak para mahasiswa untuk menjadikan setiap kesulitan sebagai bagian dari proses pendewasaan.
“Tetaplah kuat di dalam badai, sebab setelah hujan reda, selalu ada pelangi yang menanti,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Muara Basung juga mendoakan agar seluruh mahasiswa KKN Tahun 2026 diberikan kesuksesan dalam setiap perjalanan kehidupan dan tidak melupakan kenangan selama berada di Desa Muara Basung.
Ia menggambarkan Muara Basung sebagai desa bertuah yang tumbuh dalam keberagaman. Berbagai suku, agama dan latar belakang hidup berdampingan dalam harmoni dan kekompakan.
“Jangan lupakan Desa Muara Basung. Di sini mungkin ada cerita, pengalaman, dan pelajaran kehidupan yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah,” demikian pesan yang mengiringi pelepasan para mahasiswa.
Atas nama pemerintah dan masyarakat desa, Akhyar Mukmin juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama mahasiswa menjalankan KKN terdapat kekurangan dalam penyambutan, pelayanan maupun komunikasi.
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Riau, M. Alga Vicky Azmi, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, berpesan agar para mahasiswa menjadikan pengalaman hidup bermasyarakat selama KKN sebagai bekal penting dalam perjalanan akademik maupun kehidupan mereka.
Ia meminta para mahasiswa membawa pulang nilai-nilai baik dan ilmu yang bermanfaat dari Desa Muara Basung ke kampus masing-masing.
“Jangan lupakan Desa Muara Basung. Saya yakin selama hidup bersama masyarakat, banyak pengalaman yang telah didapat. Bawalah ilmu dan pengalaman yang bermanfaat ke kampus masing-masing,” ujarnya.
Ia juga berpesan agar berbagai pengalaman selama menjalani KKN dapat dijadikan bahan pembelajaran dan pendewasaan diri.
Menurutnya, setiap perjalanan pengabdian selalu memiliki cerita. Yang baik patut dijaga dan dibawa sebagai bekal, sementara hal-hal yang kurang berkenan cukup menjadi pelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih matang.
Acara pelepasan tersebut turut dihadiri unsur Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LKMD, perangkat Desa Muara Basung, Ketua MUI, TP-PKK, kepala sekolah, pemuda, serta berbagai lembaga desa.
Malam itu, mahasiswa KKN memang dilepas untuk kembali melanjutkan perjalanan masing-masing. Namun pengabdian yang telah mereka tanam selama berada di Desa Muara Basung diharapkan tidak ikut pergi bersama langkah mereka.
Sebab sebuah desa mungkin hanya menjadi tempat singgah dalam perjalanan akademik, tetapi bagi mereka yang pernah hidup, belajar dan mengabdi di dalamnya, desa selalu memiliki cara untuk tinggal lebih lama—setidaknya di dalam ingatan.
Dan dari Muara Basung, para mahasiswa itu pulang membawa satu pesan sederhana: ilmu akan menemukan maknanya ketika ia bersedia turun dari ruang kelas dan menyentuh kehidupan manusia.
(Rb/R24j)









Kolom Komentar post