PEKANBARU, RIAU24JAM.COM — Ada bunyi kecil yang nyaris tak terdengar di sebuah ruang kerja di Duri. Ujung canting menyentuh kain, menorehkan malam mengikuti garis yang telah dirancang dengan teliti. Perlahan, titik dan lengkung menjelma pola. Kain putih yang semula tanpa cerita mulai menemukan identitasnya.
Di tangan perempuan-perempuan Mandau, selembar kain bukan sekadar benda untuk dikenakan. Ia menjadi kanvas tempat sejarah, lingkungan, budaya Melayu dan kehidupan masyarakat dituturkan kembali dalam bahasa motif.

Di Workshop Batik Mandau, Jalan Jenderal Sudirman, Duri, Kabupaten Bengkalis, dua perempuan terlihat tekun mengerjakan kain yang terbentang pada bingkai berukuran sekitar lima meter persegi.
Jemari mereka bergerak lentur. Sesekali berhenti, kemudian kembali menyusuri garis. Tidak ada gerakan yang tergesa. Setiap guratan membutuhkan ketelitian, sebab satu kesalahan kecil dapat mengubah keseluruhan pola.
“Ini namanya motif nenas,” kata Aslinda, salah seorang pengrajin Batik Mandau, Jumat (2/10/2026).
Di tempat yang sama, pengrajin lain menggunakan canting cap untuk membentuk motif berbeda. Kali ini bukan bunga atau dedaunan yang muncul, melainkan bentuk pompa angguk—peralatan yang begitu akrab dengan denyut industri minyak dan gas di Duri.
Motif itu kemudian menjadi salah satu penanda Batik Mandau.
Pompa angguk tidak sekadar dipindahkan ke atas kain sebagai gambar. Ia merekam lanskap kehidupan masyarakat Duri yang selama puluhan tahun tumbuh berdampingan dengan industri migas.
Di daerah yang sejarah ekonominya begitu lekat dengan minyak bumi, simbol itu menemukan tempatnya sendiri: menjadi bagian dari identitas yang dikenakan, dipamerkan dan diwariskan.
Namun Mandau tidak hanya bercerita tentang minyak.
Di antara guratan canting, budaya Melayu tetap mendapat ruang. Ada pucuk rebung, bunga melati, daun duri, bolu kemojo hingga lambang “Bermasa”—semboyan Kabupaten Bengkalis yang bermakna Bermarwah, Maju dan Sejahtera.
Semua motif itu seperti potongan-potongan kecil dari sebuah cerita besar tentang daerah.
Cerita tentang bagaimana sebuah komunitas berusaha menjaga akar budayanya, sembari mencari cara agar akar tersebut tetap mampu menghidupi generasi yang menjaganya.
Ketika Canting Menjadi Jalan Ekonomi
Batik Mandau tumbuh dari kreativitas perempuan-perempuan yang tergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Mandau.
Apa yang semula berangkat dari semangat berkarya perlahan berkembang menjadi aktivitas ekonomi kreatif.
Di belakang proses itu terdapat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dunia pendidikan dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan melalui program Community Involvement and Development (CID).
PHR menggandeng Politeknik Bengkalis untuk mendukung pengembangan aktivitas kerajinan batik PKK Mandau. Dukungan tersebut mencakup peralatan membatik dan penguatan kapasitas para pengrajin.
Bagi para perempuan yang menghidupkan ruang kerja itu, bantuan peralatan bukan sekadar tambahan inventaris. Ia menjadi modal untuk memperpanjang napas kreativitas.
“PHR sangat memperhatikan kami, mendukung peralatan membatik mulai dari canting, cap dan perlengkapan lainnya,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Mandau, Dewi Asdinar.
Dari tangan-tangan itulah Batik Mandau perlahan keluar dari ruang produksinya.
Kain-kain yang mereka hasilkan mulai dikenal di berbagai wilayah Riau. Pesanan datang dari instansi pemerintahan, perusahaan dan masyarakat.
Pasarnya tumbuh. Begitu pula kepercayaan diri para pengrajinnya.
Dan di situlah makna pemberdayaan menjadi lebih nyata. Sebab keberhasilan sebuah program tidak semata-mata diukur dari apa yang diberikan, tetapi dari seberapa jauh penerima manfaat mampu mengubah dukungan menjadi kemampuan untuk bergerak sendiri.

Dari Duri, Cerita Berlanjut ke Dumai
Cerita yang hampir serupa tumbuh di Dumai.
Di kota yang menghadap Selat Malaka itu, perempuan-perempuan TP PKK Kota Dumai juga merawat kekayaan daerah melalui sehelai kain.
Batik Dumai hadir dengan motif yang tidak sekadar mempercantik permukaan kain, tetapi membawa kembali cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Ada Sunting Putri Tujuh, yang terinspirasi dari budaya dan cerita rakyat tentang asal-usul Dumai.
Ada pula Periuk Beruk, yang mengambil bentuk tumbuhan kantong semar; bunga kembang loyang dan bunga tanjung sebagai representasi flora khas Dumai; serta kapal Lancang Kuning yang membawa simbol kejayaan Melayu.
Motif-motif itu tersusun rapi di Galeri Batik Dumai, Aula Khairul Anwar, Jalan Putri Tujuh, Kompleks Perumahan Wali Kota Dumai.
Jika di Mandau pompa angguk menjadi simbol hubungan manusia dengan industri migas, di Dumai cerita rakyat, flora dan simbol kemaritiman menjadi jendela untuk melihat identitas kota.
Keduanya berbeda dalam motif, tetapi memiliki benang merah yang sama: menjadikan budaya sebagai sesuatu yang hidup.
Bukan sekadar disimpan dalam buku sejarah. Bukan pula hanya dipajang sebagai benda koleksi.
Melainkan diproduksi, dipasarkan dan dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Keterampilan Menjadi Penghidupan
Kreativitas para anggota TP PKK Dumai perlahan menemukan bentuk ekonominya.
Pemasaran Batik Dumai terus dikembangkan. Produk dapat ditemui di galeri, pusat pertokoan di sekitar Dumai Islamic Center (DIC), hingga toko daring.
Pembelinya pun semakin beragam. Mulai dari masyarakat perorangan, instansi pemerintahan dari dalam maupun luar daerah, hingga wisatawan asal Malaysia.
Ketua TP PKK Kota Dumai, Leni Ramaini, mengapresiasi dukungan PHR terhadap perkembangan Batik Dumai.
Pelatihan membatik yang didukung PHR, kata dia, tidak berhenti pada peningkatan keterampilan. Aktivitas tersebut mulai membuka ruang ekonomi bagi para anggotanya.
Ada keterampilan yang bertambah. Ada produk yang lahir. Ada pasar yang terbuka.
Dan dari sana, ada penghasilan yang perlahan tumbuh.
Batik, dengan demikian, menemukan wajah lain di tangan para perempuan tersebut. Ia bukan hanya ekspresi artistik, tetapi juga instrumen pemberdayaan.
Menjaga Warisan, Membuka Masa Depan
Bagi PHR, pengembangan Batik Mandau dan Batik Dumai merupakan bagian dari upaya mendukung keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Melalui program Community Involvement and Development (CID), PHR mendampingi kelompok pengrajin dan UMKM batik melalui berbagai bentuk dukungan, mulai dari peningkatan kapasitas produksi, pelatihan manajemen usaha, bantuan sarana dan prasarana membatik hingga pembukaan akses pasar.
Namun, kerja pemberdayaan selalu memiliki tantangan yang lebih panjang daripada sekadar menghasilkan produk.
Produk harus menemukan pembeli. Keterampilan harus terus berkembang. Pasar harus dipelihara. Dan komunitas harus memiliki kemampuan untuk menjaga keberlanjutan usahanya.
Karena itu, kolaborasi antara PHR dan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam perjalanan Batik Mandau dan Batik Dumai.
Dari ruang-ruang kerja yang digerakkan perempuan, tumbuh aktivitas ekonomi kreatif yang perlahan membentuk ekosistemnya sendiri.
Di sana, perempuan bukan sekadar penerima manfaat. Mereka menjadi perajin, pencipta motif, pengelola usaha sekaligus penjaga cerita daerah.
Pada akhirnya, keberlanjutan budaya tidak selalu lahir dari panggung besar.
Kadang ia tumbuh dari ruang sederhana, dari tangan yang sabar, dari canting yang bergerak perlahan di atas kain.
Setiap titik menyimpan ketekunan. Setiap motif membawa ingatan. Setiap helai kain membawa cerita tentang sebuah daerah.
Dan ketika cerita itu menemukan pasar, budaya tidak hanya bertahan—ia ikut menghidupkan kehidupan orang-orang yang menjaganya.
Di Mandau, pompa angguk ditorehkan menjadi identitas.
Di Dumai, Putri Tujuh, kantong semar, bunga tanjung dan Lancang Kuning dirajut menjadi cerita.
Semuanya bermuara pada satu hal: bahwa budaya akan lebih panjang umurnya ketika ia diberi ruang untuk hidup, berkarya dan memberi nilai bagi masyarakat.
Tentang PHR Zona Rokan
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
PHR berdiri pada 20 Desember 2018. Pertamina mendapat amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.
PHR kemudian melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, terhitung sejak 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Wilayah operasi Zona Rokan mencakup sekitar 6.200 kilometer persegi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Wilayah tersebut memiliki sekitar 80 lapangan aktif, 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations).
Selain menjalankan kegiatan produksi minyak dan gas bagi negara, PHR juga mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan lingkungan.







Kolom Komentar post