PEKANBARU, RIAU24JAM.COM — Musim kemarau selama bertahun-tahun menjadi tantangan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent, Desa Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak. Keterbatasan sumber air bahkan membuat lahan pertanian sulit produktif dan membatasi pilihan komoditas yang dapat dibudidayakan.
Kini, kondisi tersebut perlahan berubah. Melalui kolaborasi dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Pemerintah Desa setempat, KWT Multi Talent mulai mengoptimalkan lahan pertanian melalui penerapan teknologi irigasi tetes.
Beranggotakan 14 perempuan, kelompok tani tersebut kini dapat mengelola lahan hingga empat hektare dengan dukungan sistem pengairan yang lebih efisien.
Sebelumnya, persoalan air menjadi pekerjaan berat bagi para anggota. Sumber air baku berupa parit berada sekitar 75 meter dari area kebun, dengan posisi elevasi sekitar sembilan meter lebih rendah.
Kondisi geografis itu memaksa anggota KWT mengangkut air secara manual menggunakan jerigen berkapasitas 20 liter dari rumah masing-masing dengan sepeda motor.
Satu jerigen membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk proses pengambilan, pengangkutan hingga penyiraman. Jika dilakukan untuk seluruh area kebun, aktivitas tersebut bisa menghabiskan waktu sekitar empat jam setiap hari.
Keterbatasan air akhirnya membuat kelompok cenderung memilih tanaman yang relatif tahan terhadap kondisi kering. Komoditas hortikultura bernilai ekonomi seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong pun belum menjadi pilihan utama.
Persoalan itu kemudian dijawab PHR melalui dukungan sarana pengairan dan transfer teknologi.
PHR memfasilitasi pemasangan pompa air bertenaga diesel untuk mengangkat air dari parit menuju tandon berkapasitas 1.000 liter. Jika sebelumnya pengisian air membutuhkan tenaga dan waktu yang panjang, kini tandon dapat terisi hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
Tak berhenti pada penyediaan pompa, PHR juga memperkenalkan sistem irigasi tetes (drip irrigation) yang mendistribusikan air dan nutrisi secara lebih presisi langsung ke area perakaran tanaman.
Dukungan tersebut dilengkapi dengan pemberian pupuk organik serta pelatihan pengolahan limbah rumah tangga, sehingga program tidak semata berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga peningkatan kapasitas dan keberlanjutan kelompok tani.
“Setelah ada bantuan dari PHR, banyak sekali perubahan nyata yang kami alami. Kami masih bisa menanam saat musim kemarau. Berbeda dari sebelumnya, kalau kemarau kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada air,” kata Ketua KWT Multi Talent, Ratna Siregar.
Bagi kelompok, keberadaan teknologi tersebut juga menuntut proses adaptasi. Sebelum instalasi diterapkan, Ratna bersama anggota KWT secara gotong royong, dibantu para suami, membuat kolam penampungan air di area kebun.
Para anggota kemudian mempelajari cara mengoperasikan pompa, mengatur distribusi melalui jaringan pipa irigasi tetes, hingga menyusun jadwal piket untuk memastikan sistem berjalan secara rutin.
Dampaknya mulai terasa pada efisiensi waktu dan produktivitas lahan.
Durasi penyiraman kebun dapat dipangkas hingga sekitar 50 persen, dari sebelumnya mencapai empat jam per hari menjadi sekitar dua jam.
“Awalnya kami tidak paham dengan sistem pengairan yang diterapkan, namun ternyata sangat membantu. Tidak perlu repot lagi harus bolak-balik mengambil air dari rumah. Ketakutan kekeringan tidak semengerikan dulu karena sekarang ada kepastian air,” ujar Ratna.
Kepastian pasokan air hingga 1.000 liter per hari juga membuka peluang baru. Sekitar setengah hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif saat musim kemarau kini dapat kembali dimanfaatkan.
Perubahan itu turut mendorong KWT Multi Talent menggeser pola tanam. Jika sebelumnya lebih banyak mengandalkan tanaman ubi-ubian yang relatif tahan kering, kini mereka mulai berani membudidayakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong.
Bagi PHR, inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dukungan tidak hanya diberikan dalam bentuk sarana fisik, tetapi juga melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas, serta penguatan kemampuan masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal secara lebih mandiri dan berkelanjutan.***
TENTANG PHR ZONA ROKAN
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri pada 20 Desember 2018.
Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja (WK) Rokan sejak 9 Agustus 2021. PHR ditugaskan untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya, yang berlangsung secara selamat, lancar, dan andal.
PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, terhitung sejak 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Wilayah operasi WK Rokan mencakup sekitar 6.200 kilometer persegi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Saat ini terdapat 80 lapangan aktif dengan sekitar 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations).
WK Rokan merupakan salah satu wilayah kerja strategis dalam menopang produksi minyak nasional. Selain menjalankan kegiatan produksi minyak dan gas bagi negara, PHR juga melaksanakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus pada bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi masyarakat, serta lingkungan.








Kolom Komentar post