BENGKALIS, RIAU24JAM.COM – Derap langkah 75 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Bengkalis terdengar serempak, mengiris keheningan sore yang sarat khidmat. Barisan bergerak tegap menuju tiang bendera, menuntaskan tugas terakhir pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Di antara barisan itu, seorang remaja berusia 16 tahun berdiri dengan keteguhan yang melampaui usianya. Rajwa Nailatul Izzah, siswi MAN 1 Bengkalis, dipercaya membawa baki Sang Merah Putih dalam prosesi penurunan bendera.
Baki merah di tangannya menjadi tempat Sang Merah Putih kembali setelah seharian berkibar di langit Bengkalis. Dengan langkah mantap, Rajwa menerima bendera pusaka tersebut, lalu menyerahkannya kepada pembina upacara, Wakil Bupati Bengkalis Dr H Bagus Santoso.
Bagi putri sulung pasangan Muhammad Asrul dan Rika Sri Wahyuni itu, membawa baki bukan sekadar bagian dari protokol upacara. Di balik tugas yang tampak sederhana namun penuh kehormatan tersebut, tersimpan perjalanan tentang keraguan, keberanian, disiplin dan sebuah mimpi besar.
Rajwa bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan). Jika jalan itu belum terbuka, ia telah menyiapkan pilihan lain: melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana hukum.
Dua jalan yang berbeda, tetapi bertemu pada satu muara: pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Senang bisa menjalankan tugas dan membanggakan keluarga. Kalau ada kesalahan, itu menjadi pelajaran untuk ke depannya,” ujar Rajwa.
Menjadi Paskibraka merupakan pengalaman pertama bagi Rajwa. Rasa bangga, haru dan bahagia berpadu ketika dirinya dipercaya membawa baki Sang Merah Putih dalam prosesi penurunan bendera.
Rajwa sebelumnya menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Bengkalis, kemudian melanjutkan SMP di Kota Pekanbaru sebelum akhirnya bersekolah di MAN 1 Bengkalis.
Berawal dari Keraguan
Tidak semua langkah besar lahir dari keyakinan yang sempurna. Begitu pula dengan Rajwa.
Sebelum mengikuti seleksi Paskibraka, keraguan sempat mengiringi langkahnya. Namun dukungan orang tua, teman-teman dan para pelatih perlahan mengubah keraguan itu menjadi keberanian.
Selama sekitar 15 hari menjalani pendidikan dan latihan, Rajwa tidak hanya ditempa untuk berdiri tegap dan bergerak seragam. Ia juga digembleng secara mental untuk memahami bahwa menjadi Paskibraka bukan sekadar soal barisan dan upacara, melainkan tentang disiplin, tanggung jawab dan keberanian.
“Kesannya luar biasa. Kami dilatih mental dan kedisiplinan agar menjadi manusia yang lebih baik dan disiplin,” katanya.
Bagi Rajwa, Paskibraka bukan seremoni yang selesai ketika bendera diturunkan dan barisan dibubarkan. Ada pelajaran yang harus dibawa pulang: bahwa tanggung jawab menuntut keteguhan, sementara cita-cita membutuhkan disiplin untuk mengejarnya.
Pengalaman itu justru semakin menguatkan tekadnya mengejar cita-cita menjadi Polwan.
Jika kelak jalan tersebut belum menjadi miliknya, Rajwa ingin melanjutkan pendidikan di bidang hukum. Baginya, profesi boleh berbeda, tetapi semangat pengabdian tidak harus berubah.
Kebanggaan Sang Ibu
Di balik keteguhan Rajwa di lapangan, ada doa keluarga yang menjadi fondasi.
Muhammad Asrul dan Rika Sri Wahyuni tak mampu menyembunyikan rasa bangga ketika melihat putri sulung mereka berdiri membawa baki Sang Merah Putih di hadapan masyarakat Bengkalis.
Rika mengatakan, keputusan mengikuti Paskibraka sepenuhnya lahir dari keinginan Rajwa. Sebagai orang tua, mereka memilih berdiri di belakang sang anak, memberikan dukungan agar seluruh proses dapat dilalui dengan baik.
“Ini kebanggaan tersendiri bagi kami sekeluarga. Untuk cita-citanya, kami serahkan kepada Rajwa. Yang penting kami sebagai orang tua tetap mendukung,” ujar Rika.
Bagi Rajwa, sore 17 Agustus 2026 bukan sekadar penutup sebuah upacara. Itu adalah satu halaman penting dalam perjalanan hidupnya—ketika seorang remaja belajar bahwa bendera yang dibawanya bukan hanya sehelai kain, melainkan simbol tanggung jawab, kehormatan dan cita-cita.
Dan dari balik baki merah itu, sebuah mimpi perlahan menemukan bentuk: menjadi Polwan, atau menjadi sarjana hukum, dengan satu tujuan yang sama—mengabdikan diri untuk negeri.**








Kolom Komentar post