LIBO, RIAU24JAM.COM – Di industri hulu migas, keberhasilan produksi tidak semata ditentukan oleh besarnya cadangan minyak yang tersimpan di perut bumi. Di balik setiap barel minyak yang berhasil diangkat ke permukaan, terdapat infrastruktur penunjang yang bekerja tanpa henti. Salah satu yang paling vital adalah pasokan listrik yang andal—energi yang menghidupkan setiap denyut operasi di lapangan.
Kesadaran akan pentingnya keandalan infrastruktur itulah yang mendorong PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memperkuat sistem kelistrikan di Lapangan Libo, Kabupaten Siak, Riau. Melalui proyek Libo Substation Upgrade, PHR meningkatkan kapasitas gardu induk dari 10,5 MVA menjadi 24,5 MVA, atau bertambah 14 MVA, guna menopang pengembangan sumur-sumur baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas di Wilayah Kerja Rokan.
Bagi kawasan Libo Southeast, tambahan daya listrik bukan sekadar peningkatan kapasitas, melainkan sebuah kebutuhan strategis. Wilayah ini tengah berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan sumur produksi dan sumur injeksi. Seiring meningkatnya aktivitas pengeboran dan pengoperasian fasilitas produksi, kebutuhan energi listrik pun melonjak secara signifikan.
Berbagai peralatan utama, mulai dari Electrical Submersible Pump (ESP) hingga Water Injection Pump (WIP), bergantung pada suplai listrik yang stabil agar mampu bekerja secara optimal. Tanpa fondasi kelistrikan yang kuat, target peningkatan produksi akan berhadapan dengan risiko gangguan operasional yang dapat menghambat keberlanjutan produksi.
General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, menegaskan bahwa keandalan infrastruktur merupakan fondasi utama dalam menjaga kesinambungan produksi migas nasional.
“Melalui Libo Substation Upgrade, PHR memastikan tersedianya pasokan listrik yang andal untuk mendukung pengoperasian sumur-sumur baru sekaligus mengoptimalkan produksi migas demi memenuhi kebutuhan energi nasional,” ujar Andre, Senin (13/7/2026).
Tak hanya memperkuat sistem kelistrikan, proyek ini juga mencerminkan efektivitas kolaborasi antara PHR dan mitra kerja. Bersama PT Indokomas Buana Perkasa sebagai kontraktor Engineering, Procurement, and Construction (EPC), proyek berhasil dirampungkan pada Maret 2026, dua bulan lebih cepat dari target Work Program and Budget (WP&B) 2025 yang ditetapkan pada Mei 2026.
Menurut Andre, penyelesaian proyek lebih cepat dari jadwal menjadi cerminan komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan operasi sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.
“Setiap infrastruktur yang kami bangun bukan sekadar mendukung operasi hari ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan produksi migas Indonesia,” katanya.
Dari sisi teknis, proyek ini meliputi pemasangan power transformer berkapasitas 14 MVA, voltage regulator sebesar 1,4 MVA, sistem proteksi dan pengukuran baru, pembangunan gedung kontrol kelistrikan, serta pemasangan jaringan kabel distribusi sepanjang sekitar 2,5 kilometer. Seluruh fasilitas telah melewati tahapan pengujian dan commissioning sebelum dioperasikan secara penuh.
Keberhasilan proyek tersebut juga mendapat apresiasi dari Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, Sebastian Julius. Menurutnya, penguatan infrastruktur kelistrikan merupakan elemen penting dalam menjaga keandalan operasi sekaligus mendukung pencapaian target produksi migas nasional.
“Infrastruktur ini sangat penting untuk mendukung produksi di Zona Rokan. Terus semangat one goal, mewujudkan operasi yang andal, selamat, efisien, dan mampu menjaga keberlanjutan produksi,” ujar Sebastian.
Di tengah tuntutan menjaga ketahanan energi nasional, proyek Libo Substation Upgrade menjadi pengingat bahwa peningkatan produksi migas tidak selalu dimulai dari pengeboran sumur baru. Sering kali, langkah paling menentukan justru hadir dari penguatan infrastruktur penunjang yang memastikan seluruh sistem bekerja secara aman, efisien, dan berkelanjutan.
Bagi PHR, gardu induk dengan kapasitas yang kini lebih dari dua kali lipat bukan sekadar instalasi kelistrikan. Ia adalah jantung yang mengalirkan energi ke setiap fasilitas produksi, menggerakkan mesin-mesin operasi, dan memastikan Lapangan Libo terus berkontribusi menjaga pasokan energi bagi Indonesia.
TENTANG PHR ZONA ROKAN
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). PHR berdiri sejak 20 Desember 2018.
Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Pertamina menugaskan PHR untuk melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berjalan selamat, lancar dan andal. PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun, mulai 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Daerah operasi WK Rokan seluas sekitar 6.200 km2 berada di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Terdapat 80 lapangan aktif dengan 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations). WK Rokan memproduksi seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi pertamina. Selain memproduksi minyak dan gas bagi negara, PHR mengelola program tanggung jawab sosial dan lingkungan dengan fokus di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan lingkungan.








Kolom Komentar post