BENGKALIS, RIAU24JAM.COM – Matahari belum begitu tinggi ketika deretan kendaraan mulai memanjang di sejumlah SPBU di Pulau Bengkalis. Mesin-mesin dimatikan. Pengendara menunggu dengan sabar, sebagian memilih berteduh, sebagian lagi hanya bisa mengusap peluh yang terus mengalir di bawah terik siang.
Pemandangan seperti itu bukan lagi peristiwa sesaat. Ia telah menjadi rutinitas yang berulang, seolah mengajarkan bahwa untuk memperoleh beberapa liter bahan bakar minyak (BBM), masyarakat harus lebih dahulu mengorbankan waktu, tenaga, bahkan penghasilan.
Ironisnya, kenyataan tersebut terjadi di Kabupaten Bengkalis, salah satu daerah penghasil minyak bumi terbesar di Provinsi Riau. Di balik kilang dan sumur-sumur yang menopang energi nasional, masih ada masyarakat yang harus berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar keluarga.
Kondisi itu mendorong perwakilan dari 20 desa di Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan menyuarakan harapan yang sama. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Bengkalis segera menghadirkan solusi nyata agar distribusi BBM dapat menjangkau masyarakat desa yang selama ini bergantung pada pelansir.
Bagi mereka, keberadaan pelansir bukan sekadar mata rantai perdagangan, melainkan konsekuensi dari terbatasnya akses distribusi yang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat kepulauan.
Warga pun mengusulkan agar skema subpenyalur bagi wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan terpencil (3T) dapat diterapkan di Pulau Bengkalis. Menurut mereka, karakteristik wilayah kepulauan semestinya menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan distribusi energi.
Di tengah suara-suara itu, Ujang berbicara dengan sederhana. Tidak ada tuntutan yang berlebihan. Tidak pula keinginan mencari keuntungan.
“Tolonglah kami. Kami bukan mau kaya. Kami hanya ingin memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Kalimat itu terdengar singkat, tetapi memuat kegelisahan yang dirasakan banyak warga.
Harapan masyarakat bukan tanpa dasar. Mereka mencontoh kebijakan yang pernah diterapkan di Aceh saat masa tanggap darurat bencana. Kala itu, BPH Migas memberikan pengecualian sementara terhadap penggunaan barcode BBM bersubsidi sehingga distribusi dapat dilakukan secara manual demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bagi warga Pulau Bengkalis, semangat kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan solusi yang lebih adaptif terhadap kondisi wilayah kepulauan.
Nada serupa disampaikan Udin. Dengan suara bergetar, ia mengaku sedih ketika masyarakat kerap dipandang negatif hanya karena berusaha memperoleh BBM untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kalau kami dianggap penimbun minyak, kami siap ditangkap. Tapi kami hanya mencari BBM untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, bukan untuk mencari keuntungan,” katanya.
Baginya, kemudahan memperoleh BBM bukanlah sebuah kemewahan. Itu adalah hak dasar masyarakat untuk tetap bekerja, melaut, bertani, mengantar anak ke sekolah, dan menjalankan roda kehidupan.
“Harapan kami kepada BPH Migas, Ibu Bupati Bengkalis, pemerintah daerah, dan dinas terkait, permudahlah masyarakat mendapatkan BBM,” pintanya.
Sementara itu, Rohani memilih melihat persoalan dari sisi yang paling sederhana: waktu. Baginya, berjam-jam mengantre di SPBU berarti pekerjaan yang tertunda dan pendapatan yang berkurang.
“Kami sebenarnya tidak tahan mengantre di SPBU. Kalau ada penjual di pinggir jalan, walaupun selisih harganya seribu atau dua ribu rupiah, kami lebih memilih membeli di sana karena lebih cepat,” tuturnya.
Di ujung ceritanya, Rohani berharap pemerintah hadir bukan sekadar mendengar, tetapi juga mengambil keputusan yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“Lihatlah antrean kami setiap hari. Kami berharap di bawah kepemimpinan Ibu Bupati Kasmarni, persoalan BBM di Pulau Bengkalis benar-benar mendapat solusi,” ucapnya.
Persoalan BBM di Pulau Bengkalis pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang liter demi liter bahan bakar. Ia menyangkut keadilan akses, efektivitas distribusi, dan keberpihakan kebijakan terhadap masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan.
Sebab, di negeri yang setiap hari menghasilkan minyak untuk negeri, harapan masyarakat sesungguhnya sederhana: mereka tidak ingin dipersulit hanya untuk memperoleh energi yang menjadi penggerak kehidupan.**








Kolom Komentar post