ROKAN HULU, RIAU24JAM.COM – Infrastruktur kerap baru mendapat perhatian ketika kerusakan telah berubah menjadi tragedi. Begitulah yang terjadi di ruas Jalan Sontang-Duri, Kabupaten Rokan Hulu. Setelah bertahun-tahun menjadi keluhan warga dan kondisinya rusak parah, penanganan intensif baru dilakukan setelah seorang anak, Naufal (NA), meninggal dunia dalam insiden kendaraan terjebak genangan air pada Kamis (30/7/2026).
Tragedi itu kemudian menjadi sorotan publik. Foto dan video kondisi jalan yang rusak, berlubang dan digenangi air beredar luas di media sosial. Jalur yang menghubungkan wilayah Rokan Hulu dengan Duri, Kabupaten Bengkalis, mendadak menjadi pusat perhatian.
Pertanyaannya sederhana, tetapi getir: mengapa jalan harus viral dan menelan korban terlebih dahulu sebelum diperbaiki?
Terjebak di Jalan Rusak, Naufal Meregang Nyawa
Naufal bersama ayahnya dilaporkan terjebak di dalam mobil ketika melintasi ruas Jalan Sontang-Duri. Kondisi badan jalan yang rusak parah, ditambah genangan air, membuat perjalanan yang semestinya menjadi aktivitas biasa berubah menjadi petaka.
Korban kemudian ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Naufal akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Kematian tersebut bukan sekadar kabar duka bagi sebuah keluarga. Peristiwa itu kembali membuka persoalan lama tentang kualitas dan keselamatan infrastruktur di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat, ruas Sontang-Duri bukan jalan pelengkap. Jalur ini menjadi salah satu akses penting yang menghubungkan Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu, menuju Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.
Kerusakan jalan berarti terganggunya urat nadi mobilitas masyarakat—mulai dari aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan hingga distribusi kebutuhan sehari-hari.
Setelah Viral, PUPR-PKPP Riau Bergerak
Sorotan publik akhirnya mendorong pemerintah turun tangan.
Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPR-PKPP) Provinsi Riau melakukan penanganan terhadap sejumlah titik kerusakan.
Perbaikan dilakukan secara bertahap dengan menimbun bagian jalan yang rusak menggunakan material tanah sekaligus meninggikan badan jalan yang sebelumnya terendam air.
Penanganan difokuskan pada sejumlah titik, terutama jalur yang menghubungkan Desa Sontang dengan Desa Kasang Padang.
Sebelumnya, kondisi ruas tersebut memprihatinkan. Genangan air membuat permukaan jalan sulit dilalui, bahkan kendaraan roda empat harus menghadapi risiko tinggi ketika melintas.
Bagi warga, persoalannya bukan semata soal jalan yang nyaman. Jalan yang tidak layak berarti perjalanan menuju sekolah, pasar, tempat kerja maupun fasilitas kesehatan dapat berubah menjadi pertaruhan keselamatan.
PUPR Klaim Ruas Jalan Kini Sudah Fungsional
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto sebelumnya meminta jajaran PUPR-PKPP segera melakukan penanganan terhadap kondisi ruas tersebut.
Plt Kepala Dinas PUPR-PKPP Provinsi Riau Zulfahmi, melalui Plt Kepala Bidang Bina Marga Khairul Rizal, mengatakan perbaikan fungsional Jalan Sontang-Duri hampir seluruhnya telah rampung.
“Perbaikan Jalan Sontang-Duri sudah selesai kemarin, saat ini sudah fungsional dan sudah bisa dilewati kendaraan roda empat,” kata Khairul Rizal, Senin (11/8/2026).
Menurutnya, terdapat tiga titik utama yang menjadi fokus penanganan. Titik pertama dikerjakan sekitar satu pekan sebelumnya, kemudian titik kedua ditangani empat hari setelahnya, sementara titik ketiga juga telah selesai diperbaiki.
“Perbaikan ruas ini kita kolaborasi dengan Unit Pelaksana Teknis Jalan dan Jembatan (UPTJJ) Wilayah VI. Untuk pekerjaan kita menggunakan alat berat UPTJJ Wilayah VI,” jelasnya.
Riau Kaya Minyak, Mengapa Jalan Masih Menjadi Keluhan?
Peristiwa Jalan Sontang-Duri juga menyeret persoalan yang lebih besar: ketimpangan antara kekayaan sumber daya alam Riau dan kualitas infrastruktur yang dirasakan masyarakat di lapangan.
Riau dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi. Namun, di sejumlah wilayah, masyarakat masih harus berhadapan dengan jalan rusak, genangan dan akses transportasi yang tidak selalu memberikan rasa aman.
Di titik inilah pembangunan seharusnya tidak berhenti pada angka investasi, produksi atau pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur adalah wajah paling nyata dari kehadiran negara.
Bagi warga Sontang dan sekitarnya, Jalan Sontang-Duri bukan sekadar bentangan aspal dan tanah. Ia adalah jalan menuju penghidupan.
Ketika jalan rusak, ekonomi ikut tersendat. Ketika akses terganggu, pendidikan dan layanan kesehatan ikut terdampak. Dan ketika jalan berubah menjadi jebakan maut, persoalannya sudah bukan lagi sekadar infrastruktur melainkan keselamatan manusia.
PUPR Minta Truk Bertonase Besar Dibatasi
Khairul Rizal juga meminta masyarakat ikut menjaga ruas jalan yang telah diperbaiki. Salah satunya dengan membatasi kendaraan bertonase besar melintas di jalur tersebut.
“Kami berharap masyarakat dapat membatasi kendaraan besar melintasi jalan itu, seperti truk CPO dan lainnya. Jadi sama-sama kita menjaga, agar tidak rusak lagi. Kalau kendaraan besar tetap lewat, maka jalan bisa rusak kembali,” ujarnya.
Selain perbaikan fungsional, pemerintah juga telah mengusulkan pembangunan tiga titik box culvert di sepanjang ruas Sontang-Duri.
“Kita juga sudah usulkan pembangunan Box Culvert tiga titik ruas tersebut. Mudah-mudahan dapat terealisasi, karena dengan adanya Box Culvert bisa menjadi saluran air, dan air tidak menggenangi badan jalan,” kata Khairul.
Usulan tersebut penting karena persoalan Jalan Sontang-Duri bukan hanya permukaan jalan yang rusak. Genangan air menunjukkan adanya persoalan tata kelola aliran air yang harus diselesaikan secara permanen.
Jangan Menunggu Korban Berikutnya
Perbaikan fungsional tentu patut diapresiasi. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui kini kembali dapat digunakan kendaraan roda empat.
Namun, pekerjaan pemerintah tidak boleh berhenti ketika jalan sudah bisa dilewati.
Sebab, fungsional bukan berarti permanen. Menimbun jalan dengan material tanah mungkin menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi tanpa sistem drainase dan konstruksi yang memadai, kerusakan yang sama berpotensi kembali terjadi.
Tragedi yang menimpa Naufal seharusnya menjadi titik balik dalam cara pemerintah memandang infrastruktur.
Jangan sampai jalan diperbaiki karena viral. Jangan sampai alat berat bergerak setelah kamera datang. Dan jangan sampai keselamatan warga baru menjadi prioritas setelah korban berjatuhan.
Sebab jalan yang baik bukanlah kemewahan. Ia adalah kewajiban negara—dan keselamatan warga tidak seharusnya menunggu sebuah tragedi menjadi viral.**
(Rb/R24j)








Kolom Komentar post