Riau24jam.com – Hujan memang turun dari langit. Tetapi gelondongan kayu yang berserakan, terbawa arus, menghantam rumah warga, dan menimbun aliran sungai itu tidak pernah jatuh dari langit. Fenomena ini seolah kembali mengingatkan kita bahwa tidak semua bencana adalah murka alam, sebagian justru lahir dari kejahatan manusia terhadap lingkungannya sendiri.
Di berbagai wilayah Sumatera, setiap musim penghujan tiba, ancaman banjir bandang dan tanah longsor selalu menghantui. Namun, di antara deru hujan dan derasnya arus sungai, masyarakat kerap menemukan potongan kayu besar, bahkan gelondongan utuh, ikut hanyut. Pertanyaan besar pun muncul: dari mana semua ini berasal jika bukan dari aktivitas pembalakan liar?
Ketika hutan digunduli, akar yang seharusnya mencengkeram tanah tak lagi ada. Ketika bukit-bukit dibuka demi keuntungan sesaat, daya tahan alam ikut dilucuti. Lalu ketika hujan mengguyur, tanah tak lagi mampu menahan. Sungai meluap, banjir menerjang, dan masyarakat yang tidak pernah menebang sepohon pun justru menjadi korban.
Inilah ironi yang terus berulang, bencana alam yang sebenarnya bukan murni akibat alam, melainkan akibat ulah tangan-tangan rakus yang merusak hutan dan mengangkangi aturan demi keuntungan pribadi. Sementara itu, masyarakat hanya bisa berdoa dan menata ulang puing-puing kehidupan yang tersisa.
Tragedi di Sumatera kembali membuka mata kita bahwa pembiaran terhadap kejahatan lingkungan sama saja dengan membiarkan bencana datang lebih cepat. Penegakan hukum tidak boleh hanya sebatas retorika. Pembalakan liar, perambahan hutan, dan eksploitasi alam tanpa kendali harus ditindak nyata, bukan sekadar diumumkan.
Hari ini, Sumatera kembali berduka. Namun duka tidak boleh berhenti sebagai belasungkawa. Harus ada koreksi besar-besaran dalam tata kelola lingkungan dan keberanian aparat menindak para pelaku perusakan hutan, bukan hanya buruh kecil di lapangan, tetapi juga aktor-aktor besar di baliknya.
Semoga doa tidak hanya menjadi lantunan harapan, tetapi menjadi dorongan untuk menghentikan kejahatan lingkungan sebelum bencana berikutnya kembali datang.
Pray For Sumatera…
(RL)








Kolom Komentar post