BENGKALIS, RIAU24JAM.COM – Di tengah dominasi industri kelapa sawit yang masif, Desa Bangko Jaya justru menemukan jalan lain: memutar limbah menjadi kekuatan ekonomi. Bukan sekadar bertahan, tetapi membangun kemandirian.
“Kita hidup dikelilingi raksasa industri sawit. Pantang rasanya jika hanya diam tanpa berproses. Dengan akal dan tekad, limbah yang dulunya terbuang kini menjadi kunci memutus rantai ketergantungan,” ujar Suparman Amir (48), penggerak Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bangko Jaya Sejahtera, Rabu (6/5/2026).
Di tangan Suparman, limbah yang selama ini dipandang sebagai residu tak bernilai seperti solid sawit, abu boiler, hingga kotoran ternak ditransformasi menjadi sumber daya produktif untuk sektor perikanan dan pertanian. Sebuah lompatan berpikir yang lahir dari kegelisahan, sekaligus keberanian membaca potensi yang diabaikan.
Sebelum inovasi ini tumbuh, budidaya ikan dan pertanian di desa tersebut berada dalam tekanan serius. Harga pakan pabrikan dan pupuk kimia yang tinggi menggerus margin usaha, bahkan nyaris meniadakan keuntungan. Ironisnya, di saat yang sama, limpahan limbah di sekitar belum mampu dimanfaatkan akibat keterbatasan pengetahuan dan teknologi.
Berangkat dari kondisi itu, Pokdakan Bangko Jaya Sejahtera mulai merancang solusi berbasis potensi lokal. Inisiatif ini kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) lewat program Desa Energi Berdikari (DEB).
Melalui pendampingan berkelanjutan, kelompok ini memperoleh pelatihan pembuatan pakan mandiri, manajemen keuangan, hingga produksi probiotik. Dukungan fasilitas seperti mesin pencacah, alat penepung, serta Solar Dryer House turut mempercepat proses produksi yang lebih higienis dan efisien.
Hasilnya konkret. Dengan memanfaatkan limbah sawit sebagai bahan baku utama, mereka mampu memproduksi pakan ikan mandiri dengan formulasi teruji. Tak berhenti di situ, inovasi diperluas ke sektor pertanian melalui pengembangan pupuk kompos organik berbasis bio slurry dari reaktor biogas yang dioptimalkan dengan energi surya.
Dampaknya signifikan. Biaya pakan ikan berhasil ditekan hingga 40 persen—dari Rp15–16 ribu per kilogram menjadi sekitar Rp8–9 ribu. Dari 10 kolam bioflok aktif, produksi lele mencapai sekitar 537 kilogram per siklus panen, dengan total keuntungan menyentuh Rp64,4 juta. Rata-rata pendapatan anggota meningkat hingga Rp6,4 juta per siklus.
Di sektor pertanian, penggunaan pupuk organik mandiri juga memangkas ketergantungan terhadap pupuk kimia hingga 50 persen, sekaligus memperbaiki kualitas tanah dan hasil panen.
Manager CID PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menilai capaian ini sebagai bukti bahwa perubahan berkelanjutan berakar dari inisiatif masyarakat itu sendiri.
“PHR meyakini kekuatan pembangunan desa terletak pada warganya. Kolaborasi ini mendorong inovasi berbasis potensi lokal yang tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian dan ketahanan lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, Pokdakan Bangko Jaya Sejahtera menatap fase berikutnya, komersialisasi produk pakan dan pupuk mandiri, setelah memenuhi standar regulasi. Apa yang lahir dari desa ini bukan sekadar praktik ekonomi alternatif, melainkan model perlawanan sunyi terhadap ketergantungan bahwa dari pinggiran, kemandirian bisa dirumuskan dengan cara yang cerdas dan berkelanjutan.**
TENTANG PHR ZONA ROKAN
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi, berada di bawah Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Berdiri pada 20 Desember 2018, PHR mendapat mandat dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja (WK) Rokan sejak 9 Agustus 2021.
PHR melanjutkan pengelolaan WK Rokan selama 20 tahun hingga 8 Agustus 2041. Wilayah operasi seluas sekitar 6.200 km² ini mencakup tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau, dengan 80 lapangan aktif, lebih dari 11.300 sumur, serta 35 stasiun pengumpul.
Sebagai salah satu tulang punggung produksi energi nasional, WK Rokan menyumbang sekitar seperempat produksi minyak mentah nasional. Selain itu, PHR juga menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat, dan pelestarian lingkungan.









Kolom Komentar post