DURI – Apa yang dialami tuan Ade Armando (AA) yang dipelasah massa dalam demo, Senin (11/4) di Senayan memberi peringatan bagi penggiat medsos yang biasa nyinyir di dunia maya, harus hati-hati bila di dunia nyata. Segala sesuatu bisa terjadi, apalagi di tengah aksi demonstrasi.
Apapun alasannya, “kesamaptaan” diperlukan.
Demo hari Senin, adalah panggung anak muda, panggung mahasiswa tulang punggung bangsa. Mungkin tak pas jika sosok sekaliber AA berada di tengah massa, meski mengaku tak menjadi bagian dari demo, cuma mendukung dan memantau.
Berita yang dialami AA di media massa, seperti bercermin di kaca retak. Dinamikanya cepat, dan merayap. Tak cukup waktu, argumentasi beradu. Bogem mentah, lebih dulu dilepaskan, para petinju dadakan.
Massa aksi, bergerak, bergelombang, berteriak, tak kuasa melihat satu persatu apa yang terjadi di sudut panggung demo.
“Duh, Armando!”
Pepatah tua, “You are what you do” seperti melekat pada kejadian yang menimpa tuan AA, dari Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) itu. Panggung demokrasi di tengah aksi perlu kelenturan. Sebab, reaksi menjalar lebih cepat.
Langit Jakarta ketika terjadi demo, sejatinya tak mendung, tapi tidak untuk yang suka “berdengung”. Kadang demokrasi punya caranya sendiri, menegur aktivis, meski sekuat tua keladi.










Kolom Komentar post