MANDAU, RIAU24JAM.COM – Pagi di Desa Bathin Betuah, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Jumat (7/8/2026), terasa berbeda. Di antara hamparan perkebunan masyarakat, batang-batang jagung yang selama berbulan-bulan dirawat akhirnya memasuki babak terakhir: dipanen.
Bagi petani, panen adalah saat ketika kerja panjang menemukan hasilnya. Bagi pemerintah, momentum itu menjadi lebih dari sekadar aktivitas pertanian. Ia menjadi gambaran kecil tentang bagaimana ketahanan pangan dibangun—dari lahan masyarakat, dari desa, dan dari kerja yang tidak selalu terlihat.
Suasana panen raya itu turut dihadiri Camat Mandau Riki Rihardi, S.STP., M.Si., bersama Kapolsek Mandau AKP I Made Pasek Saradahtam Bendesa, S.Tr.K., S.I.K., M.A., serta masyarakat Desa Bathin Betuah.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Ketahanan Pangan Desa Bathin Betuah Tahun 2026, dengan jagung sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan.
Jagung bukan sekadar tanaman palawija. Komoditas ini memiliki posisi penting dalam rantai pangan dan perekonomian. Karena itu, upaya meningkatkan produksinya di tingkat desa menjadi bagian dari pekerjaan yang lebih besar: menjaga agar kebutuhan pangan tetap tersedia sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Di Bathin Betuah, gagasan besar itu diterjemahkan dalam bentuk yang sederhana—tanah yang ditanami, tanaman yang dirawat, mesin yang bekerja, dan hasil yang kemudian dipanen.
Ketahanan Pangan Tak Bisa Dikerjakan Sendiri
Camat Mandau Riki Rihardi mengatakan keberhasilan program ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi berbagai pihak.
Pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Pemerintah memberikan dukungan dan fasilitasi, aparat ikut mendorong penguatan program, sementara masyarakat menjadi ujung tombak yang berhadapan langsung dengan tanah dan produksi pertanian.
Menurut Riki, sinergi lintas sektor di Kecamatan Mandau dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan sektor pertanian telah terjalin dengan baik.
“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh program ketahanan pangan ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan,” ujar Riki.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan satu hal: ketahanan pangan tidak cukup dibangun melalui program yang datang dan pergi mengikuti kalender kegiatan. Ia membutuhkan kesinambungan.
Sebab, persoalan pangan pada akhirnya bukan hanya soal produksi. Ada produktivitas lahan, kemampuan petani, ketersediaan alat, efisiensi biaya, hingga keberlanjutan pasar yang ikut menentukan apakah sebuah program benar-benar mampu bertahan.
Ketika Mesin Mengubah Cara Petani Bekerja
Bagi masyarakat Desa Bathin Betuah, dukungan terhadap sektor pertanian bukan sesuatu yang abstrak.
Tokoh masyarakat setempat, Salim, merasakan langsung perubahan yang terjadi setelah masyarakat mendapatkan bantuan berupa alat produksi.
Sebelumnya, sejumlah pekerjaan pertanian membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Kini, penggunaan mesin membuat proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien.
“Dengan bantuan alat produksi, pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu sekarang bisa dilakukan dengan bantuan mesin, sehingga pekerjaan menjadi jauh lebih cepat dan efisien,” kata Salim.
Cerita Salim memperlihatkan bahwa teknologi sederhana sekalipun dapat memiliki arti besar bagi petani.
Di lahan pertanian, efisiensi bukan sekadar persoalan kecepatan. Ia berkaitan dengan tenaga yang dikeluarkan, biaya yang harus ditanggung, serta kemampuan petani mengelola lahan secara lebih produktif.
Karena itu, bantuan alat pertanian menjadi bagian penting dalam memastikan program ketahanan pangan tidak hanya berhenti pada penanaman dan panen, tetapi juga mendorong perubahan cara kerja masyarakat.
Dari Desa untuk Ketahanan Pangan
Panen jagung di Bathin Betuah mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun, pekerjaan untuk menjaga keberlanjutan pertanian membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Di sinilah tantangan sesungguhnya berada. Panen raya harus menjadi titik awal untuk melihat kembali apa yang sudah berjalan, apa yang masih kurang, dan bagaimana produksi berikutnya dapat ditingkatkan.
Jika lahan masyarakat tetap produktif, petani mendapatkan dukungan yang memadai, teknologi terus diperkuat, dan kolaborasi antarlembaga berjalan konsisten, maka program ketahanan pangan dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi desa.
Sebab, ketahanan pangan nasional pada akhirnya tidak hanya dibangun dari kebijakan di tingkat pusat.
Ia tumbuh dari lahan-lahan yang mungkin jauh dari pusat kekuasaan. Dari desa seperti Bathin Betuah. Dari petani yang setiap hari berhadapan dengan tanah, cuaca, biaya produksi, dan ketidakpastian hasil.
Dan pada Jumat itu, ketika jagung dipanen dari tanah Bathin Betuah, sebuah pesan sederhana kembali terlihat: ketahanan pangan nasional bermula dari desa yang mampu menjaga tanahnya tetap hidup dan masyarakatnya tetap berdaya.
(Rb/R24j)








Kolom Komentar post