Riau24jam.com – Dunia kerap melihat ketegangan Amerika Serikat dan Iran seolah sekadar konflik politik biasa. Padahal, akar persoalannya jauh lebih dalam menyentuh sejarah peradaban, kekuatan regional, hingga perebutan pengaruh global yang melibatkan Israel dan kepentingan Barat.
Iran bukan negara kecil yang tiba-tiba muncul di panggung dunia. Jauh sebelum bernama Iran, wilayah ini dikenal sebagai Persia, sebuah peradaban besar yang pernah menguasai kawasan luas dan menjadi pusat ilmu pengetahuan, budaya, serta kekuatan militer. Nama Persia mungkin berganti, tetapi mentalitasnya tidak: berdiri tegak, mandiri, dan menolak diatur pihak luar.
Di sinilah letak masalah utama bagi Amerika Serikat. Washington dikenal tidak nyaman dengan negara yang memilih jalan sendiri, terutama jika negara itu menolak tunduk pada arsitektur politik global versi Barat. Iran adalah contoh paling nyata: berdaulat, keras kepala menurut Barat, dan konsisten menolak dominasi asing.
Ketegangan kian memuncak ketika Iran mengembangkan teknologi nuklir. Bagi Iran, nuklir adalah hak kedaulatan dan simbol kemajuan teknologi. Namun bagi Amerika dan sekutunya, program tersebut dilabeli sebagai ancaman besar bukan semata soal energi, tetapi potensi kekuatan strategis yang bisa mengubah peta kekuasaan Timur Tengah.
Di titik ini, faktor Israel tak bisa diabaikan. Israel negara yang didukung penuh Amerika memandang pengaruh Iran di Timur Tengah sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan dan keamanannya. Bukan soal agama atau identitas Yahudi sebagai umat, melainkan kebijakan politik dan strategi negara Israel yang menolak munculnya penyeimbang kekuatan baru di kawasan.
Iran bukan sekadar negara; ia adalah pemain besar. Pengaruhnya menjalar ke berbagai konflik regional, dari politik hingga keamanan. Maka yang terjadi hari ini bukan sekadar perseteruan diplomatik, melainkan pertarungan pengaruh, kontrol, dan siapa yang berhak menentukan arah Timur Tengah.
Persia memang tak lagi tercantum di peta politik dunia, tetapi keberaniannya belum pernah mati. Selama Iran memilih berdiri di luar kendali Amerika dan sekutunya, selama itu pula tekanan, sanksi, dan konflik akan terus berulang. Ini bukan soal siapa benar atau salah semata ini adalah cermin perebutan kekuasaan global yang belum selesai.
Rb/r24j










Kolom Komentar post