PEKANBARU, RIAU24JAM.COM — Masa depan perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh produktivitas kebun, tetapi juga oleh kualitas generasi yang kelak meneruskan denyut sektor strategis tersebut. Pendidikan menjadi salah satu pintu penting untuk memastikan regenerasi petani sawit berjalan dengan pengetahuan, kompetensi, dan daya saing yang lebih kuat.
Semangat itulah yang mengemuka dalam acara pelepasan dan kuliah umum mahasiswa asal Kabupaten Bengkalis yang dinyatakan lulus seleksi beasiswa Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Tahun 2026 di Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Minggu (5/10/2026).
Sekitar 300 mahasiswa asal Kabupaten Bengkalis tercatat berhasil memperoleh beasiswa BPDP-KS tahun ini. Mereka selanjutnya akan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi mitra program tersebut.
Bagi Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPD APKASINDO) Kabupaten Bengkalis, momentum tersebut bukan sekadar seremoni pelepasan. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dari keluarga petani sawit.
DPD APKASINDO Kabupaten Bengkalis hadir dalam kegiatan tersebut melalui delegasi yang ditunjuk langsung Ketua DPD APKASINDO Bengkalis, Septian Nugraha, SE., M.Si. Delegasi tersebut terdiri atas Ali Mujahidin, SH., Robert Manullang, Amd.Par., dan Rahmad Zaki, S.Sos., M.I.Kom.
Septian Nugraha berhalangan hadir secara langsung karena harus menjalankan agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Kehadiran organisasi petani sawit itu menjadi penegasan bahwa akses pendidikan bagi anak-anak petani merupakan bagian penting dari agenda regenerasi sektor perkebunan. Sebab, perkebunan sawit ke depan membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami kebun dari pengalaman, tetapi juga mampu membaca perkembangan teknologi, manajemen, industri, hingga tantangan keberlanjutan.
Septian mengatakan, peningkatan jumlah penerima beasiswa asal Bengkalis perlu terus didorong dari tahun ke tahun. Karena itu, APKASINDO Bengkalis akan memperkuat sosialisasi program tersebut kepada calon lulusan SMA dan sederajat.
“Semoga setiap tahunnya jumlah mahasiswa asal Bengkalis yang lulus beasiswa BPDP-KS semakin meningkat. Kami dari DPD APKASINDO Kabupaten Bengkalis pada tahun ini akan lebih gencar dan serius menyosialisasikan program beasiswa ini kepada adik-adik yang akan tamat SMA/sederajat pada tahun 2027 nanti,” ujar Septian melalui delegasinya.
Menurutnya, semakin luas informasi mengenai peluang beasiswa tersebut, semakin besar pula kesempatan anak-anak dari keluarga petani sawit untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Upaya tersebut sebelumnya juga telah dilakukan APKASINDO Bengkalis dengan mengirimkan delegasi untuk menghadiri kegiatan serupa di sejumlah kampus mitra BPDP-KS.
Rahmad Zaki, S.Sos., M.I.Kom., misalnya, telah ditugaskan menghadiri sejumlah agenda di Politeknik CWE Bekasi, Jawa Barat; Politeknik LPP Yogyakarta; serta Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Ia baru kembali ke Riau beberapa hari sebelum kegiatan pelepasan di Unilak.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan sumber daya manusia di sektor sawit membutuhkan kerja bersama. Bukan hanya antara mahasiswa dan perguruan tinggi, tetapi juga melibatkan organisasi petani, pemerintah serta lembaga pengelola dana perkebunan.
Dalam kesempatan itu, DPD APKASINDO Kabupaten Bengkalis turut menyampaikan apresiasi kepada BPDP-KS atas dukungannya terhadap pendidikan anak-anak keluarga petani sawit.
Bagi APKASINDO, beasiswa tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar bantuan biaya pendidikan. Program itu menjadi salah satu instrumen untuk membuka akses pendidikan sekaligus menyiapkan generasi yang diharapkan mampu membawa sektor sawit ke arah yang lebih maju dan berdaya saing.
“Terima kasih kepada BPDP-KS atas beasiswa ini. Ini bukti nyata bahwa dana sawit kembali untuk petani sawit,” tutup Septian.
Dari ruang kuliah hingga hamparan kebun, harapan itu kini menemukan jalannya. Anak-anak petani sawit yang hari ini melepas seragam sekolah, perlahan memasuki dunia pendidikan tinggi membawa satu pesan penting: regenerasi perkebunan tidak cukup diwariskan melalui lahan, tetapi juga harus dibekali ilmu pengetahuan.**







Kolom Komentar post