JAKARTA, RIAU24JAM.COM – PT Patra Drilling Contractor (PDC) terus memperkuat fondasi transformasi digital di sektor Supply Chain Management (SCM). Melalui implementasi Integrated Procurement (INPRO) serta persiapan penerapan SAP Modul Inventory Management, PDC mendorong lahirnya tata kelola rantai pasok yang semakin terintegrasi, transparan, dan berbasis data.
Transformasi ini tidak semata memindahkan proses kerja dari sistem manual ke layar digital. Lebih jauh, PDC membangun sebuah ekosistem SCM yang mampu menghubungkan setiap tahapan proses bisnis, mulai dari kebutuhan material, pengadaan, pengelolaan kontrak, hingga ketersediaan persediaan untuk menopang kelancaran operasional perusahaan.
Melalui INPRO, seluruh tahapan pengadaan kini diarahkan untuk terhubung dalam satu sistem terpadu. Proses tersebut mencakup pengajuan dan persetujuan kebutuhan, penyusunan dokumen tender, pemantauan progres pengadaan, hingga pengelolaan kontrak.
Integrasi tersebut memberikan jejak administrasi yang lebih terdokumentasi dan mudah ditelusuri, sekaligus memperluas visibilitas terhadap setiap proses dan status pengadaan. Dengan demikian, pengambilan keputusan tidak lagi hanya bertumpu pada laporan yang terpisah-pisah, melainkan semakin didukung oleh informasi yang tersedia secara terstruktur.
Di sisi lain, persiapan implementasi SAP Modul Inventory Management menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat pengelolaan persediaan. Sistem ini diarahkan untuk menciptakan pencatatan ketersediaan dan pergerakan material yang lebih akurat, terstruktur, serta terintegrasi dalam ekosistem SAP.
Ketersediaan data persediaan yang semakin baik diharapkan mampu mendukung perencanaan kebutuhan material secara lebih presisi, sekaligus menjaga kesinambungan operasional perusahaan.
Manager Supply Chain Management PDC, Syahrul Ahyar, menegaskan bahwa digitalisasi SCM bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, melainkan bagian dari transformasi proses bisnis untuk menghasilkan sistem yang lebih efektif dan bernilai strategis bagi perusahaan.
“Implementasi ini bukan sekadar menghadirkan sistem baru, tetapi bagaimana kami membangun proses SCM yang lebih terintegrasi, transparan, dan mampu menyediakan data yang lebih baik untuk mendukung pengambilan keputusan. Pada akhirnya, transformasi ini harus memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan mendukung kebutuhan operasional secara lebih efektif,” ujar Syahrul, Senin (31/8/2026).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya PDC membangun end-to-end supply chain visibility, sebuah pendekatan yang memungkinkan informasi mengenai kebutuhan, proses pengadaan, hingga ketersediaan material saling terhubung dan dapat dipantau secara lebih menyeluruh.
Di tengah tuntutan industri yang bergerak semakin cepat, rantai pasok tidak lagi cukup hanya berjalan. Ia dituntut untuk mampu membaca kebutuhan, merespons perubahan, dan menyediakan informasi secara tepat waktu.
Melalui transformasi digital ini, PDC berupaya memperkuat SCM yang lebih adaptif, transparan, dan akuntabel, sekaligus meningkatkan kecepatan serta ketepatan perusahaan dalam merespons kebutuhan operasional.
Pada akhirnya, digitalisasi rantai pasok yang dibangun PDC diarahkan bukan hanya untuk memperbaiki proses di belakang layar, tetapi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga efektivitas operasional dan meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.**







Kolom Komentar post