BENGKALIS, RIAU24JAM.COM — Menjadi pencinta alam bukan sekadar menaklukkan gunung, menembus rimba, atau bertahan di medan yang sulit. Di balik setiap perjalanan, ada disiplin, ketangguhan, solidaritas, dan tanggung jawab untuk menjaga alam serta memberi manfaat bagi sesama.
Semangat itulah yang mengiringi pengukuhan 15 anggota muda Mapala Laksamana Politeknik Negeri Bengkalis menjadi anggota penuh. Prosesi pelantikan berlangsung di Pantai Indah Selat Baru, Bengkalis, Minggu (23/8/2026).
Ke-15 anggota tersebut dikukuhkan sebagai bagian dari Angkatan Bahana Cakra Ragawana, setelah menuntaskan seluruh rangkaian pendidikan dan pembinaan yang menjadi syarat menuju status anggota penuh.
Ketua Mapala Laksamana, Ahmad Fauzi, mengatakan pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni pergantian status keanggotaan. Menurutnya, ada proses panjang yang harus dilalui sebelum seorang anggota muda dinilai siap mengemban tanggung jawab sebagai anggota penuh.
“Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni untuk mengubah status dari anggota muda menjadi anggota penuh. Ini adalah penanda bahwa mereka telah melewati proses pendidikan, penggemblengan mental, praktik lapangan, ekspedisi, hingga pengabdian kepada masyarakat dan lingkungan,” ujar Ahmad Fauzi, Selasa (25/8/2026).
Rangkaian pendidikan diawali dengan pendidikan ruangan, kemudian dilanjutkan praktik lapangan serta pendidikan dan latihan dasar cinta alam. Setelah itu, para peserta mengikuti ekspedisi sebagai bagian penting dalam pembentukan kemampuan sekaligus karakter.
Ekspedisi tersebut mencakup tiga kegiatan utama, yakni pengabdian masyarakat, pengelolaan mangrove, dan pendakian gunung.
Ketiga kegiatan itu menjadi ruang pembelajaran langsung bagi para anggota muda. Mereka tidak hanya dituntut memahami teknik kepencintaalaman, tetapi juga belajar membaca kondisi lingkungan, bekerja dalam tim, beradaptasi dengan medan, serta memahami persoalan masyarakat.
“Kepencintaalaman bukan hanya tentang menaklukkan alam, tetapi bagaimana kita belajar menghormati alam, memahami keterbatasan diri, membangun solidaritas, dan menerjemahkan setiap pengalaman menjadi bentuk pengabdian,” tegas Ahmad.
Bukan Akhir, Justru Awal Tanggung Jawab
Sebelum pelantikan, para anggota muda menjalani tahapan terakhir berupa sakralisasi yang berlangsung pada 22–23 Agustus 2026.
Tahapan tersebut menjadi momentum pemantapan sekaligus refleksi terhadap seluruh proses pendidikan yang telah mereka lalui.
Setelah seluruh rangkaian diselesaikan, 15 anggota muda akhirnya resmi dilantik sebagai anggota penuh Mapala Laksamana pada 23 Agustus 2026.
Prosesi pelantikan turut dihadiri Ketua Umum, jajaran pengurus, anggota kehormatan (AK), dewan kehormatan (DK), serta tamu undangan lainnya.
Selain perubahan status keanggotaan, prosesi tersebut juga ditandai dengan pemberian nama lapangan kepada masing-masing anggota. Nama tersebut menjadi identitas yang melekat dalam perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Mapala Laksamana.
Ke-15 anggota Angkatan Bahana Cakra Ragawana yang resmi dikukuhkan beserta nama lapangannya yakni:
– Dian PB Nainggolan — Rimbun
– Desni Selfoila — Cantigi
– M. Ridowa — Sherpa
– Muhammad Arya Pratama — Kaldera
– Maya Ariyanti — Magma
– Rahma Nur Azizah — Halimun
– Sri Meldiana — Arunika
– Rama Dehotmat Gultom — Navajo
– Sri Wahyuni — Cheyenne
– Ririn Permadani — Ranu Kumbolo
– Ratu Fathana Bayu Suci — Rengganis
– Afriantu — Wigwam
– Muhammad Rafi Qodri — Rakata
– Jufreser Gamaliel Mamot — Jeram
– Tora Junaidi — Banyu
Ahmad Fauzi menegaskan, status anggota penuh justru menandai dimulainya tanggung jawab yang lebih besar.
“Kami berharap Angkatan Bahana Cakra Ragawana tidak berhenti pada pencapaian sebagai anggota penuh. Justru setelah dikukuhkan, tanggung jawab mereka semakin besar untuk menjaga nama baik Mapala Laksamana, menjunjung tinggi nilai-nilai kepencintaalaman, serta hadir memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Menurutnya, pengalaman selama menjalani pendidikan harus menjadi bekal bagi anggota dalam meneruskan berbagai program organisasi, baik kegiatan alam bebas, konservasi, pengabdian masyarakat maupun kegiatan internal Mapala Laksamana.
“Apa yang mereka lalui selama pendidikan adalah bekal. Ke depan, mereka harus mampu membawa nilai-nilai tersebut dalam setiap kegiatan, baik di alam bebas, konservasi, pengabdian masyarakat maupun dalam kehidupan organisasi,” ujarnya.
Regenerasi dan Pengabdian
Pengukuhan 15 anggota tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses regenerasi Mapala Laksamana. Sebuah organisasi tidak hanya diukur dari seberapa panjang usianya, tetapi dari kemampuannya mewariskan nilai, pengetahuan dan semangat pengabdian kepada generasi berikutnya.
“Regenerasi adalah napas sebuah organisasi. Hari ini kita mengukuhkan 15 anggota penuh, tetapi sesungguhnya kita sedang menitipkan keberlanjutan Mapala Laksamana kepada generasi berikutnya,” ungkap Ahmad.
Pada akhirnya, perjalanan kepencintaalaman bukan semata-mata perkara menaklukkan ketinggian atau menundukkan kerasnya medan. Alam justru mengajarkan manusia tentang batas, kesabaran dan kebersamaan.
Dari sana, keberanian menemukan maknanya. Bukan keberanian untuk menaklukkan alam, melainkan keberanian untuk menjaganya.
Dengan berakhirnya rangkaian sakralisasi dan dilaksanakannya pelantikan di Pantai Indah Selat Baru, Angkatan Bahana Cakra Ragawana resmi memasuki babak baru sebagai anggota penuh Mapala Laksamana Politeknik Negeri Bengkalis.
Regenerasi pun berlanjut. Nilai kepencintaalaman diwariskan, solidaritas dipertahankan, dan pengabdian kembali menemukan generasi penerusnya.**







Kolom Komentar post