Oleh: Robby Leonardo
RIAU24JAM.COM – Parlemen dibangun sebagai rumah demokrasi, tempat gagasan diuji, kebijakan dirumuskan, dan kepentingan rakyat diperjuangkan. Di ruang itulah perbedaan seharusnya menemukan jalan keluar melalui argumentasi yang bernas, bukan melalui emosi yang meledak. Ketika ruang sidang berubah menjadi arena baku hantam, yang tercoreng bukan hanya nama individu, melainkan marwah lembaga yang mengemban amanah rakyat.
Kursi parlemen bukan hadiah atas kemenangan politik. Ia adalah titipan kepercayaan publik yang lahir dari suara rakyat. Karena itu, setiap sikap, ucapan, dan tindakan seorang wakil rakyat semestinya mencerminkan kedewasaan, integritas, dan kemampuan mengelola perbedaan. Sebab demokrasi tidak pernah mengajarkan bahwa kepalan tangan lebih kuat daripada kekuatan pikiran.
Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang lumrah dalam politik. Bahkan, demokrasi hidup karena adanya keberagaman gagasan. Namun ketika perdebatan berakhir dengan saling dorong, saling pukul, atau tindakan yang mengedepankan kekerasan, sesungguhnya yang kalah bukan hanya pihak-pihak yang bertikai. Yang kalah adalah etika politik, wibawa parlemen, dan kepercayaan masyarakat.
Rakyat memilih wakilnya bukan untuk menjadi petarung di ruang sidang. Mereka dipilih untuk memperjuangkan anggaran yang berpihak kepada publik, melahirkan regulasi yang berkualitas, serta mengawasi jalannya pemerintahan. Setiap menit yang dihabiskan dalam konflik pribadi adalah waktu yang dirampas dari kepentingan rakyat.
Ironisnya, di saat masyarakat masih bergelut dengan berbagai persoalan ekonomi, pelayanan publik, dan pembangunan daerah, energi para wakil rakyat justru terkuras oleh pertikaian yang tidak memberi manfaat bagi publik. Yang ditunggu masyarakat adalah solusi, bukan sensasi. Yang diharapkan adalah kebijaksanaan, bukan pertunjukan emosi.
Kedewasaan politik tidak diukur dari siapa yang paling keras bersuara atau paling kuat memukul lawan. Kedewasaan politik justru terlihat dari kemampuan menahan diri, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan konflik melalui dialog. Itulah esensi demokrasi yang sesungguhnya.
Marwah sebuah parlemen tidak dibangun oleh megahnya gedung atau tingginya anggaran, melainkan oleh kualitas perilaku orang-orang yang menghuninya. Ketika wakil rakyat kehilangan kendali atas emosinya, publik berhak mempertanyakan apakah amanah yang mereka emban masih menjadi prioritas, atau telah dikalahkan oleh ego dan kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan wakil yang piawai bertinju. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu berpikir jernih, berbicara dengan etika, dan mengambil keputusan dengan kebijaksanaan. Sebab kursi parlemen adalah simbol amanah, bukan panggung adu otot.
Wakil rakyat bukan preman politik. Mereka adalah wajah demokrasi. Dan wajah demokrasi seharusnya memantulkan keteladanan, bukan kekerasan.







Kolom Komentar post