JAMBI, RIAU24JAM.COM – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, setiap cadangan migas yang berhasil dioptimalkan memiliki arti lebih dari sekadar angka produksi. Ia menjadi penanda bahwa potensi energi yang selama ini tertahan kini mulai diubah menjadi nilai ekonomi yang nyata. Langkah itulah yang berhasil diwujudkan Pertamina EP Jambi melalui keberhasilan memonetisasi gas bumi dari Lapangan Sengeti, sebuah capaian yang menandai penjualan gas pertama di Field Jambi setelah hampir satu dekade.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam strategi pengembangan migas nasional. Tidak hanya mengoptimalkan cadangan stranded gas yang selama ini belum termanfaatkan akibat keterbatasan akses pasar dan infrastruktur, proyek ini juga membuka jalan bagi percepatan pengembangan lapangan-lapangan gas lain di Provinsi Jambi.
Lapangan Sengeti tercatat memiliki cadangan gas sebesar 14,76 BSCF, dengan volume kontrak penjualan sekitar 13,4 BSCF yang akan disalurkan selama tujuh tahun. Setelah melalui proses seleksi sesuai mekanisme yang berlaku, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) ditetapkan sebagai pembeli gas.
Nilai penjualan gas secara bruto diperkirakan mencapai sekitar Rp1,6 triliun sepanjang masa kontrak. Selain memberikan nilai tambah bagi perusahaan, proyek ini juga diproyeksikan meningkatkan penerimaan negara melalui mekanisme bagi hasil migas, pajak, dan berbagai instrumen fiskal lainnya.
General Manager Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, Mefredi, mengatakan monetisasi Lapangan Sengeti memiliki nilai strategis karena menjadi proyek percontohan dalam pengembangan stranded gas di Field Jambi.
“Keberhasilan ini bukan hanya menghasilkan nilai ekonomi dari Lapangan Sengeti, tetapi juga menjadi pilot project pengembangan stranded gas di Field Jambi. Pengalaman mulai dari pematangan aspek teknis, penyusunan skema komersialisasi, market intelligence, proses pemilihan pembeli, hingga pengajuan Penetapan Alokasi dan Harga Gas kepada Menteri ESDM melalui SKK Migas menjadi pembelajaran penting untuk mempercepat pengembangan lapangan-lapangan gas lainnya,” ujar Mefredi.
Ia menjelaskan, pengalaman tersebut akan menjadi pijakan dalam mengakselerasi monetisasi sejumlah lapangan gas potensial lainnya seperti Sungai Gelam, Puspa, Puspa Asri, Simpang Tuan, hingga Meruap, yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan teknis maupun komersial.
Di sisi lain, proyek Sengeti diyakini akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah. Kehadiran investasi baru di sektor hulu migas diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal, tumbuhnya peluang usaha bagi pelaku UMKM, serta berkembangnya aktivitas ekonomi di sekitar wilayah operasi, khususnya pada tahap konstruksi dan operasional.
Pemerintah daerah juga dilibatkan secara aktif melalui koordinasi terkait proses perizinan, kesesuaian tata ruang, serta sinkronisasi dengan program pembangunan daerah sehingga pengembangan proyek dapat berjalan secara terintegrasi.
Senior Manager Commercial Regional 1 PT Pertamina Hulu Rokan, Rahmat Keslani, menilai keberhasilan Lapangan Sengeti menjadi pintu masuk bagi terbentuknya ekosistem industri berbasis gas di Provinsi Jambi.
“Semakin banyak lapangan gas yang berhasil dikomersialkan, semakin besar pula peluang hadirnya industri berbasis gas serta pembangunan infrastruktur energi yang dapat meningkatkan daya saing daerah,” katanya.
Dalam mendukung program swasembada energi nasional, gas dari Lapangan Sengeti akan dimanfaatkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri dan pembangkit listrik, termasuk di wilayah Batam, serta berbagai sektor strategis lainnya.
Mefredi menambahkan, monetisasi Lapangan Sengeti baru menjadi langkah awal dari strategi jangka panjang Pertamina EP dalam mengoptimalkan potensi gas bumi di Jambi.
Saat ini perusahaan tengah mempercepat proses komersialisasi beberapa lapangan lain. Lapangan Sungai Gelam sedang menunggu penetapan alokasi dan harga gas serta izin prinsip tie-in. Sementara Puspa dan Puspa Asri masih dalam proses pengajuan penetapan alokasi dan harga kepada Menteri ESDM. Adapun Simpang Tuan kini berada pada tahap pematangan aspek teknis dan keekonomian.
“Monetisasi Lapangan Sengeti bukan hanya menjadi keberhasilan penjualan gas pertama setelah hampir satu dekade di Field Jambi. Lebih dari itu, ini menjadi fondasi bagi percepatan pengembangan stranded gas lainnya untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia,” tutup Mefredi.
Keberhasilan ini mempertegas komitmen Pertamina Hulu Rokan Zona 1 dalam mengelola sumber daya migas nasional secara berkelanjutan. Di tengah tantangan transisi energi, optimalisasi cadangan gas yang selama ini belum termanfaatkan menjadi langkah strategis untuk menjaga pasokan energi nasional sekaligus membuka ruang investasi dan pertumbuhan ekonomi baru di daerah.**






Kolom Komentar post