Oleh: Panji Ahmad Syuhada & Febriza Luwu
Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning
Jika Anda membuka media sosial belakangan ini, ada satu tren manajemen keuangan personal yang sedang ramai dibicarakan, dan tren ini cukup mencemaskan. Fenomena tersebut bernama “Doom Spending” (belanja demi menghibur diri dari rasa putus asa). Istilah ini merujuk pada perilaku generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial, yang secara sadar menghabiskan uang mereka untuk barang-barang mewah jangka pendek, seperti pakaian bermerek, konser musik, liburan mahal, atau makan di restoran estetik, alih-alih menabungnya untuk masa depan.
Fenomena ini sekilas terlihat seperti kecerobohan finansial biasa. Namun, jika dibedah lebih dalam, doom spending adalah respons psikologis sekaligus bentuk kepasrahan ekonomi yang nyata. Di tengah bayang-bayang inflasi tinggi, harga properti yang mustahil terjangkau oleh gaji standar, serta ketidakpastian geopolitik global, menabung untuk membeli rumah atau dana pensiun dianggap sebagai “mimpi prasejarah” yang tidak realistis lagi. Akibatnya, manajemen keuangan mereka bergeser: dari yang awalnya fokus pada akumulasi kekayaan jangka panjang (wealth accumulation), menjadi pencarian kebahagiaan instan jangka pendek (instant gratification).
Pertanyaannya, mengapa fenomena ini masif terjadi secara global, dan bagaimana teori akademis menjelaskan kegagalan manajemen keuangan personal yang disengaja ini?
Perspektif Teori
Secara akademis, perilaku doom spending tidak lahir dari ruang hampa. Ada beberapa teori ekonomi perilaku (behavioral economics) dan manajemen keuangan yang melandasi fenomena ini.
Pertama, kita dapat melihatnya melalui Teori Utilitas Intertemporal (Intertemporal Choice Theory) yang dikembangkan oleh ekonom Paul Samuelson. Teori ini membahas bagaimana seseorang mengalokasikan konsumsi mereka antara masa sekarang dan masa depan. Dalam kondisi ekonomi normal, individu yang rasional akan menahan konsumsi hari ini (menabung) demi tingkat konsumsi atau keamanan yang lebih tinggi di masa depan.
Namun, fenomena doom spending menunjukkan terjadinya penyesuaian nilai yang ekstrem, yang dikenal sebagai Hyperbolic Discounting. Generasi muda saat ini menilai masa depan dengan “diskon” yang sangat besar. Karena masa depan dianggap terlalu buram dan tidak pasti (akibat krisis iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan harga rumah yang tidak masuk akal), nilai uang di masa depan menyusut drastis di mata mereka. Uang Rp10 juta di tangan hari ini untuk membeli tiket konser terasa jauh lebih bernilai dan nyata daripada Rp10 juta yang disimpan di bank untuk DP rumah sepuluh tahun lagi.
Kedua, fenomena ini sangat erat kaitannya dengan Teori Akuntansi Mental (Mental Accounting Theory) dari peraih Nobel, Richard Thaler. Manusia cenderung membagi-bagi uang mereka ke dalam rekening mental yang berbeda berdasarkan sumber atau tujuannya. Dalam kasus doom spending, generasi muda melakukan pelabelan ulang terhadap uang mereka. Ketika tabungan untuk “Masa Depan/Rumah” dirasa sudah tidak mungkin mencapai target karena harganya terlanjur melambung tinggi, uang tersebut tidak lantas disimpan. Rekening mental itu diubah labelnya menjadi “Dana Kebahagiaan Sekarang.” Karena target jangka panjangnya rusak, batasan psikologis untuk mengerem belanja pun ikut runtuh.
Terakhir, dari sudut pandang sosiologi ekonomi, terdapat teori Konsumsi Demonstratif (Conspicuous Consumption) oleh Thorstein Veblen, yang kini diamplifikasi oleh algoritma media sosial. Di era digital, tekanan untuk menampilkan status sosial sangat tinggi. Doom spending sering kali dipicu oleh rasa cemas tertinggal (FOMO – Fear of Missing Out). Membeli barang mewah atau pengalaman mahal menjadi kompensasi instan untuk meraih validasi sosial, menggantikan pencapaian tradisional seperti kepemilikan rumah atau tanah yang semakin sulit diraih.
Dampak dan Redefinisional Manajemen Keuangan
Sebagai sebuah opini, kita tidak bisa sekadar menghakimi doom spending sebagai kesalahan. Ini adalah mekanisme pertahanan diri psikologis (coping mechanism). Ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali atas masa depan makro (ekonomi negara, harga properti), mereka mencoba mengambil kendali penuh atas masa depan mikro mereka, yaitu hari ini.
Meski menghibur untuk sementara, dalam jangka panjang, tren manajemen keuangan reaktif ini sangat berbahaya. Tanpa adanya jaring pengaman finansial, generasi ini rentan jatuh ke dalam jebakan utang (seperti penyalahgunaan fitur PayLater atau kartu kredit) dan krisis finansial saat mereka menua dan tidak lagi produktif.
Manajemen keuangan personal saat ini perlu diredefinisi. Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan literasi keuangan kuno yang kaku, seperti “jangan beli kopi susu agar bisa beli rumah.” Pendekatan tersebut sudah tidak relevan dengan struktur ekonomi saat ini. Solusinya adalah menerapkan Manajemen Keuangan Berbasis Nilai (Value-Based Financial Management) yang dikombinasikan dengan konsep micro-saving.
Alih-alih mematok target ekstrem yang memicu stres finansial, generasi muda perlu diajak untuk membagi keuangan dengan porsi yang adil: mengamankan dana darurat kecil secara otomatis lewat aplikasi (memanfaatkan teknologi auto-debit), sembari tetap mengalokasikan anggaran untuk menikmati hidup secara bertanggung jawab. Daya saing individu di masa depan tidak lagi diukur dari seberapa ketat mereka menyiksa diri untuk menabung, melainkan seberapa tangkas (agile) mereka mengelola kesehatan mental dan finansial secara seimbang di tengah dunia yang terus berubah.***






Kolom Komentar post