JAKARTA, RIAU24JAM.COM – Konvensi dan pameran tahunan industri migas terbesar di Asia Tenggara, IPA Convention and Exhibition (Convex) 2026, kembali menjadi panggung strategis transformasi energi nasional dan global. Kegiatan yang berlangsung di BSD City, Tangerang, Rabu (20/5/2026), menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor energi, mulai dari pemerintah, perusahaan migas, akademisi, hingga pelaku teknologi energi masa depan.
IPA Convex 2026 menghadirkan beragam agenda penting, mulai dari plenary session, technical program, pameran teknologi energi, hingga ruang diskusi interaktif seperti IPA’s Talk Corner dan Innovative Energy Solutions (IES). Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika transisi energi global yang terus berkembang.
Berbagai perusahaan energi nasional maupun internasional turut menampilkan inovasi terbaru berbasis digitalisasi, Artificial Intelligence (AI), serta teknologi energi berkelanjutan sebagai bagian dari transformasi industri migas menuju operasional yang lebih efisien, presisi, dan ramah lingkungan.
Dalam forum tersebut, General Manager PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan, Andre Wijanarko, memaparkan capaian sekaligus strategi pengelolaan Blok Rokan sebagai salah satu tulang punggung produksi minyak nasional.
Andre menjelaskan, Blok Rokan merupakan operasi migas darat terbesar di Indonesia dengan luas wilayah kerja lebih dari 6.400 kilometer persegi dan mencakup lebih dari 100 lapangan minyak aktif. Hingga akhir 2025, produksi Blok Rokan tercatat mencapai lebih dari 151 ribu barel minyak per hari (MBOPD) serta 33 MMSCFD gas.
“Capaian ini menunjukkan keberhasilan pengelolaan sumber daya energi secara optimal dan berkelanjutan,” ujar Andre.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan reservoir di Zona Rokan ditopang oleh empat pilar utama, yakni pemanfaatan teknologi dan digitalisasi, evaluasi reservoir terintegrasi, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
Andre mengungkapkan, pengelolaan lapangan tua di Wilayah Kerja (WK) Rokan saat ini tidak lagi sekadar mempertahankan produksi, melainkan juga memaksimalkan cadangan minyak yang masih tersimpan di reservoir melalui inovasi teknologi berkelanjutan.
“Yang kami lakukan sekarang adalah bagaimana mengelola tabungan energi yang masih kita miliki. Produksi yang ada saat ini harus dijaga sambil mencari cara meningkatkan recovery semaksimal mungkin,” katanya.
Salah satu fokus utama PHR adalah implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (Chemical EOR) di Lapangan Minas. Lapangan tersebut memiliki karakteristik Sumatera Light Oil, yakni minyak ringan yang relatif lebih mudah mengalir dibanding minyak berat seperti di Lapangan Duri.
Melalui teknologi EOR, PHR menargetkan peningkatan recovery factor dari kisaran 30 hingga 40 persen menjadi mencapai 70 persen.
“Nah, di situlah potensi tambahannya sangat besar. Dari satu reservoir saja kita masih bisa mendapatkan tambahan produksi yang signifikan,” jelas Andre.
Transformasi berbasis teknologi juga disebut telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kinerja lapangan migas di wilayah operasional Zona Rokan. Di Lapangan Minas, pendekatan Back to Geology berhasil membalikkan tren penurunan produksi yang sebelumnya mencapai 11 persen per tahun menjadi pertumbuhan produksi sekitar 3 persen, sekaligus meningkatkan produksi hingga 14 MBOPD.
Selain Minas, Lapangan Duri juga menjadi perhatian utama. Lapangan minyak berat tersebut saat ini memproduksi sekitar 43 ribu hingga 46 ribu barel minyak per hari melalui teknologi steamflood yang telah diterapkan lebih dari empat dekade.
Strategi steam injection dilakukan dengan memanaskan air menjadi uap melalui steam generator, kemudian diinjeksikan ke reservoir agar minyak berat menjadi lebih encer dan mudah mengalir ke permukaan.
“Duri memiliki karakteristik minyak yang sangat kental, sehingga membutuhkan perlakuan khusus melalui steam injection agar produksi tetap optimal,” ungkapnya.
PHR juga terus melakukan evaluasi reservoir terintegrasi melalui reaktivasi sumur idle, pengembangan low quality reservoir menggunakan teknologi horizontal well, hingga penerapan AI dan machine learning untuk optimasi kandidat sumur produksi.
Tak hanya fokus pada lapangan eksisting, PHR juga agresif melakukan eksplorasi guna menemukan cadangan baru di WK Rokan. Beberapa temuan terbaru bahkan telah memberikan kontribusi produksi, seperti struktur Pinang D dan Sreya yang masing-masing mampu menghasilkan sekitar 2.000 barel minyak per hari.
Selain itu, Lapangan Topi yang sebelumnya sempat ditinggalkan kini kembali dikembangkan dan menunjukkan hasil produksi yang menjanjikan.
“Lapangan-lapangan kecil yang dulu mungkin tidak menjadi prioritas, sekarang justru memiliki nilai strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional,” kata Andre.
Yang paling menarik, lanjutnya, adalah keberhasilan pengeboran migas non-konvensional di WK Rokan pada periode 2024–2025. Dari pengeboran tersebut ditemukan indikasi keberadaan minyak yang berhasil mengalir ke permukaan.
Temuan tersebut membuka peluang baru pengembangan sumber daya migas non-konvensional sebagai sumber pertumbuhan energi masa depan Indonesia.
“Ini masih terus dikaji oleh tim. Ke depan akan dilihat program kerja seperti apa yang paling ekonomis untuk dikembangkan,” ujarnya.
Saat ini, seluruh potensi tersebut masih berada pada tahap evaluasi dan pembuktian cadangan melalui pengeboran delineasi, simulasi produksi, serta kajian keekonomian lapangan.
PHR optimistis kombinasi antara EOR, eksplorasi konvensional, dan pengembangan migas non-konvensional dapat memperpanjang umur produksi WK Rokan bahkan melampaui tahun 2041.
IPA Convex 2026 sekaligus menegaskan bahwa masa depan industri energi tidak lagi semata bertumpu pada eksploitasi sumber daya, melainkan juga pada kemampuan adaptasi teknologi, inovasi berkelanjutan, serta penguatan ekosistem energi nasional yang resilien di tengah percepatan transisi energi dunia.
(rb/r24j)








Kolom Komentar post