BENGKALIS, RIAU24JAM.COM – Komitmen mendukung Program 100 Hari Asta Cita Presiden Republik Indonesia terus diwujudkan melalui langkah konkret di sektor ketahanan pangan. Jajaran Polsek Mandau bersama Pemerintah Desa Air Kulim dan kelompok tani melakukan survei serta pengecekan pengelolaan lahan Program Gerakan Penanaman Jagung seluas 1 juta hektare yang digagas Polri, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan berlangsung di Jalan Rejosari RT 03 RW 03, Dusun Sukamaju, Desa Air Kulim, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, pada lahan seluas lebih kurang dua hektare yang dikelola secara kolaboratif oleh Kelompok Tani Berkah bersama BUMDes Desa Air Kulim.
Survei lapangan dipimpin langsung Kapolsek Mandau, Primadona, didampingi Penjabat Kepala Desa Air Kulim Suryati, Bhabinkamtibmas Desa Air Kulim Bambang Siregar, Ketua Kelompok Tani Berkah Faizunsyah, serta Ketua BUMDes Desa Air Kulim Aditya Kurniawan.
Lahan milik warga bernama Sumadi alias Akong tersebut dimanfaatkan melalui pola tumpang sari di area perkebunan kelapa sawit. Program ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan produktif masyarakat.
Kapolsek Mandau, Kompol Primadona menegaskan, program penanaman jagung bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata kehadiran Polri dalam mendukung agenda strategis negara di sektor pangan.
“Polri hadir bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut memastikan program ketahanan pangan berjalan nyata di tengah masyarakat. Program jagung 1 juta hektare ini merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang harus didukung secara bersama-sama, mulai dari pemerintah, aparat hingga kelompok tani,” ujar Kompol Primadona.
Ia mengatakan, pemanfaatan lahan perkebunan sawit dengan sistem tumpang sari menjadi solusi produktif untuk meningkatkan nilai ekonomi lahan sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat desa.
“Kami melihat semangat kelompok tani dan pemerintah desa sangat baik. Ini menjadi modal penting untuk membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan. Harapan kami, lahan yang ada tidak dibiarkan tidur, tetapi mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.
Dalam pengelolaannya, kelompok tani menggunakan sejumlah peralatan pendukung seperti satu unit excavator, satu unit jonder, cangkul, dan mulsa. Adapun komoditas yang ditanam yakni jagung pipil.
Saat ini tanaman jagung telah memasuki usia tanam sekitar 75 hari dengan tinggi rata-rata mencapai 170 sentimeter dan sebagian besar mulai berbuah. Namun tingginya curah hujan menyebabkan sebagian tanaman terdampak genangan banjir sehingga pertumbuhannya tidak merata.
Selain faktor cuaca, serangan hama babi hutan juga menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok tani. Meski demikian, proses pemupukan dan perawatan intensif terus dilakukan guna menjaga produktivitas tanaman.
Program gerakan penanaman jagung ini dinilai menjadi simbol kolaborasi antara Polri, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun ketahanan pangan berbasis desa.**










Kolom Komentar post