DURI, RIAU24JAM.COM — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin asupan sehat bagi anak-anak sekolah di Kota Duri justru menuai sorotan tajam publik. Sebuah unggahan viral di media sosial Facebook memperlihatkan makanan MBG yang diduga mengandung belatung dan dinilai tidak layak konsumsi.
Unggahan tersebut dibagikan oleh akun Facebook bernama Sapitri, yang menampilkan foto dan video buah dalam paket MBG dengan kondisi sudah dipenuhi belatung. Dalam keterangannya, pengunggah meluapkan kekesalan dan kekecewaan terhadap pihak penyedia makanan.
“Tolonglah buat yang produksi MBG untuk Kota Duri, jangan asal kasih MBG untuk anak sekolah. Kalau sudah tidak layak dikonsumsi seharusnya ke sampah dibuang, jangan dikasih ke anak-anak,” tulis Sapitri dalam unggahannya, Jumat, (23/1/2026).
Ia juga menyoroti kondisi buah yang diduga sudah rusak parah namun tetap dibagikan kepada siswa. “Ini buah yang sudah penuh belatung dikasih ke anak. Pakai otak sedikit. Kalau mau korupsi jangan seperti ini caranya,” lanjutnya.
Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu reaksi keras warganet. Banyak netizen mempertanyakan standar pengawasan, kualitas produksi, hingga dugaan kelalaian serius dalam pelaksanaan program MBG di lapangan. Tidak sedikit pula yang mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.
Program MBG sendiri merupakan program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan anak sekolah. Namun, temuan ini justru memunculkan kekhawatiran baru, apakah proses pengadaan, distribusi, dan pengawasan makanan benar-benar dijalankan sesuai standar keamanan pangan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyedia MBG maupun instansi terkait di Kota Duri mengenai kebenaran video dan foto yang beredar. Publik menanti langkah cepat dan transparan, termasuk penelusuran apakah insiden ini merupakan kelalaian teknis, pelanggaran prosedur, atau indikasi masalah yang lebih serius dalam pengelolaan program.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program sebesar apa pun, jika lemah dalam pengawasan, berpotensi membahayakan kelompok paling rentan anak-anak. Media ini akan terus menelusuri dan mengonfirmasi perkembangan kasus tersebut.
Kepala SDN 23 Mandau, Syafrida saat dihubungi via telpon Whatsapp membenarkan bahwa kejadian MBG diduga berbelatung tersebut berada di sekolahnya yang beralamat di Jalan Sejahtera, Duri, Mandau.
“Iya, benar, kami pihak sekolah tidak mengetahui pasti, karena MBG nya dibawa pulang ke rumah masing-masing,” pungkasnya.(*)








Kolom Komentar post