PEKANBARU, RIAU24JAM.COM — Dunia industri minyak dan gas bumi (migas) terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan energi nasional. Di tengah perubahan tersebut, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mampu mengambil peran dalam industri strategis tersebut.
Pesan itu mengemuka dalam Oil & Gas Career Insight Sharing Session yang digelar PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan secara daring, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 700 peserta yang terdiri atas pelajar SMA/SMK, mahasiswa, alumni Program Vokasi Migas PHR, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum.

Melalui forum tersebut, PHR membuka ruang bagi generasi muda Riau untuk mengenal industri migas secara lebih dekat, memahami kebutuhan kompetensi dunia kerja, sekaligus melihat peluang pengembangan karier di sektor energi nasional.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni Analis Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Safitri Andani, Senior Officer Human Capital Business Partner Pertamina Patra Niaga Hary Kuswanto, serta Rizky Handika, alumni Program Vokasi Migas PHR.
Ketiganya memberikan perspektif mengenai perkembangan industri migas, kebutuhan kompetensi tenaga kerja, hingga pengalaman langsung alumni dalam memasuki dunia profesional.
Peserta tidak hanya memperoleh gambaran mengenai dinamika industri migas, tetapi juga pemahaman bahwa kesiapan memasuki dunia kerja membutuhkan perpaduan antara kompetensi teknis, kemampuan nonteknis, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Safitri Andani menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif PHR dalam memperkuat kompetensi generasi muda dan tenaga kerja lokal melalui Program Vokasi Migas.
“Kami mengapresiasi inisiatif PHR dalam mengembangkan Program Vokasi Migas sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi generasi muda dan tenaga kerja lokal. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, lembaga pelatihan, dan industri menjadi penting agar kompetensi yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Safitri.
Menurutnya, keterhubungan antara dunia pendidikan, pelatihan, pemerintah dan industri menjadi faktor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan kerja.
Program Vokasi Migas PHR sendiri merupakan bagian dari Community Involvement and Development (CID) yang diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengembangan kompetensi sekaligus peluang kerja.
Program tersebut dirancang secara berkelanjutan, mulai dari identifikasi kebutuhan kompetensi, pelatihan berbasis standar industri, sertifikasi, pembekalan kesiapan kerja hingga job matching.
Dalam pelaksanaannya, PHR menggandeng sejumlah pemangku kepentingan, antara lain PPSDM Migas Cepu, Pertamina Drilling Center/Indonesia Drilling Training Center, pemerintah daerah, kontraktor serta industri pendukung.
Efektivitas kegiatan juga tercermin dari hasil evaluasi peserta. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman dengan capaian skor di atas 90 persen.
Tak berhenti pada peningkatan pemahaman, peserta juga memberikan sejumlah masukan untuk pengembangan kegiatan berikutnya. Di antaranya, kebutuhan informasi yang lebih luas mengenai program magang serta penyelenggaraan webinar lanjutan yang membahas perkembangan industri migas dan peluang pengembangan karier.
Bagi PHR, masukan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ruang belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Melalui pengembangan kompetensi dan perluasan akses informasi, PHR terus mendorong generasi muda Riau untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja sekaligus memperkuat ekosistem sumber daya manusia lokal.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membuka lebih banyak akses terhadap peluang kerja, tetapi juga melahirkan tenaga kerja yang kompeten dan adaptif untuk mendukung keberlanjutan industri energi serta memperkuat ketahanan energi nasional.***
Tentang PHR Zona Rokan
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina yang bergerak di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
PHR berdiri pada 20 Desember 2018. Pertamina mendapatkan amanah dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.
Pertamina menugaskan PHR melakukan proses alih kelola dari operator sebelumnya. Proses transisi berlangsung selamat, lancar dan andal. PHR kemudian melanjutkan pengelolaan Zona Rokan selama 20 tahun, terhitung sejak 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Wilayah operasi Zona Rokan memiliki luas sekitar 6.200 kilometer persegi yang mencakup tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Wilayah ini memiliki 80 lapangan aktif dengan sekitar 11.300 sumur dan 35 stasiun pengumpul (gathering stations).
Zona Rokan memproduksi sekitar seperempat minyak mentah nasional atau sepertiga produksi minyak Pertamina.
Selain menjalankan kegiatan produksi minyak dan gas untuk negara, PHR juga mengembangkan berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat dan lingkungan.









Kolom Komentar post