TANGERANG, RIAU24JAM.COM – Perhelatan IPA Convention and Exhibition 2026 atau IPA Convex ke-50 tidak hanya menjadi panggung industri energi nasional, tetapi juga ruang promosi bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan industri hulu migas.
Salah satu yang mencuri perhatian ialah Inklusif Kopi, UMKM binaan Pertamina EP Rantau di bawah Zona 1 Regional 1 Subholding Upstream Pertamina, yang menghadirkan semangat pemberdayaan penyandang disabilitas melalui industri kopi.
Di tengah berkembangnya budaya kopi di Aceh, Inklusif Kopi hadir bukan sekadar sebagai kedai, melainkan ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas untuk membangun kemandirian sekaligus menegaskan eksistensi mereka di tengah masyarakat.
UMKM tersebut berdiri pascapandemi Covid-19 pada 2022 melalui program pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi penyandang disabilitas di kawasan Aceh Tamiang.
Melalui pelatihan dan pendampingan, para penyandang disabilitas dipersiapkan untuk terlibat langsung dalam operasional kedai, mulai dari pelayanan hingga meracik kopi sebagai barista.
Manager Inklusif Kopi, Rizki Nofanda, mengatakan kehadiran kedai tersebut lahir dari semangat menciptakan ruang yang inklusif dan setara agar penyandang disabilitas mampu berkembang tanpa stigma sosial.
“Tujuan utama kami supaya teman-teman disabilitas tidak merasa terpinggirkan. Kami ingin mereka lebih terbuka, lebih percaya diri, dan punya ruang untuk berkembang,” ujar Rizki, Kamis (21/5/2026).
Salah satu yang bertahan hingga kini adalah Yasir, penyandang disabilitas yang dipercaya menjadi barista di Inklusif Kopi. Bagi Yasir dan rekan-rekannya, kedai tersebut bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang untuk membangun rasa percaya diri dan membuktikan kemampuan mereka di tengah masyarakat.
Pemilihan usaha kopi dinilai relevan dengan tren industri kopi yang terus berkembang, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Pada awal berdiri, terdapat enam penyandang disabilitas yang bergabung. Namun seiring waktu, sebagian memilih pekerjaan lain setelah memiliki keterampilan dan pengalaman kerja yang lebih baik. Kini, tiga orang masih aktif menjalankan kedai tersebut.
Perjalanan Inklusif Kopi sempat diuji ketika bencana melanda dan menghancurkan sebagian besar fasilitas usaha. Bangunan pendukung rusak parah, kaca-kaca pecah, perlengkapan kedai hancur, dan hampir seluruh alat operasional tidak lagi dapat digunakan.
“Bangunan untuk Inklusif Kopi habis. Alat-alat semua hancur,” ungkap Rizki.
Meski diterpa musibah, Yasir dan rekan-rekannya tetap memilih bertahan. Semangat untuk kembali bangkit menjadi energi utama agar usaha tersebut tetap hidup, karena kedai itu telah menjadi sumber penghidupan sekaligus simbol perjuangan mereka.
Langkah pertama yang dilakukan pascabencana adalah memperbaiki alat-alat yang masih bisa digunakan. Sebagian lainnya terpaksa dibeli ulang demi menjaga operasional kedai tetap berjalan.
“Ujung tombak sebuah coffee shop itu alat. Jadi apa yang masih bisa diperbaiki kami perbaiki, dan yang rusak kami beli ulang,” kata Rizki.
Sementara kondisi bangunan diperbaiki seadanya. Kaca yang pecah ditutup menggunakan plastik, sedangkan meja-meja baru dibuat dari sisa material yang masih terselamatkan.
“Yang penting pelanggan tetap tahu bahwa Inklusif Kopi masih berjalan,” tambahnya.
Di balik bangunan sederhana yang belum sepenuhnya pulih, Yasir tetap berdiri di belakang meja bar, meracik kopi dengan semangat yang tidak ikut runtuh bersama bencana. Kehadiran Inklusif Kopi hari ini menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan dan ruang yang setara untuk tumbuh, berkarya, dan mandiri.
(rb/r24j)







Kolom Komentar post