Riau24jam.com – Ada ungkapan satir yang terdengar kasar, namun menyimpan cermin tajam bagi perilaku manusia hari ini: babi tak pernah menjadi manusia, justru manusialah yang kerap bertingkah seperti babi. Ungkapan ini bukan hinaan biologis, melainkan kritik moral tentang bagaimana akal sehat kian sering ditanggalkan.
Manusia dianugerahi pikiran, nurani, dan etika. Namun dalam praktiknya, tak sedikit yang memilih hidup dengan naluri paling dasar: serakah, rakus, tak peduli dampak, dan menghalalkan segala cara. Ketika kepentingan pribadi dijadikan kompas utama, nilai kemanusiaan pun tersingkir ke pinggir.
Di ruang publik, fenomena ini mudah ditemui. Kebohongan dipoles sebagai kebenaran, kekerasan verbal dianggap keberanian, dan pelanggaran etika dibungkus dalih kebebasan. Yang kuat merasa benar, yang berisik merasa paling bermoral. Akal dikalahkan ambisi.
Satir ini sesungguhnya alarm. Bukan untuk merendahkan, melainkan mengingatkan manusia yang menolak berpikir, enggan berempati, dan abai pada tanggung jawab sosial sedang menanggalkan identitasnya sendiri. Ia hidup, tetapi tanpa arah nilai.
Peradaban dibangun oleh kemampuan menahan diri, bukan oleh kerakusan. Martabat dijaga oleh integritas, bukan oleh tipu daya. Jika manusia ingin tetap layak disebut manusia, maka akal harus kembali memimpin, etika harus ditegakkan, dan nurani tak boleh dikubur.
Sebab saat naluri mengambil alih dan akal disisihkan, yang tersisa bukan kemajuan melainkan kemunduran yang dibungkus kebisingan. Dan itu bukan soal hewan apa, melainkan soal pilihan untuk tetap beradab atau menyerah pada sisi paling rendah dari diri sendiri.
Rb/r24j










Kolom Komentar post