Riau24jam.com – Di ruang publik hari ini, terlalu banyak suara yang keras namun kosong. Terlalu banyak ocehan yang berseliweran tanpa data, tanpa etika, dan tanpa tanggung jawab. Ironisnya, sebagian datang dari mereka yang seharusnya memahami makna kedewasaan dan keteguhan sikap laki-laki.
Pepatah lama mengatakan, tong kosong nyaring bunyinya. Semakin minim isi, semakin keras suara yang dikeluarkan. Fenomena ini nyata terlihat, berbicara ke mana-mana, berkomentar ke sana-sini, menyebar opini tanpa dasar, bahkan menyerang pribadi orang lain demi sensasi dan pengakuan.
Menjadi laki-laki bukan soal suara paling lantang atau kata paling pedas. Kedewasaan diukur dari kemampuan menahan diri, berpikir jernih, dan berbicara pada tempatnya. Mulut yang tak terkendali justru mencerminkan kekosongan nalar dan rapuhnya karakter.
Opini boleh berbeda, kritik sah disampaikan. Namun ketika kata-kata berubah menjadi ocehan tanpa substansi, ketika keberanian digantikan oleh kegaduhan, maka yang tersisa hanyalah kebisingan bukan kebenaran.
Laki-laki sejati dikenal dari sikap, bukan dari teriakan. Dari karya, bukan dari caci maki. Dari tanggung jawab, bukan dari obral komentar murahan. Ruang publik tidak membutuhkan sampah kata-kata, melainkan gagasan yang jernih dan beradab.
Sudah saatnya menata ulang cara berbicara dan bersikap. Karena diam yang bermakna jauh lebih berharga daripada ribuan kata tanpa isi.
Rb/r24j










Kolom Komentar post