PADANG PARIAMAN, RIAU24JAM.COM — Langit Ulak’an Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu siang itu tak seperti biasanya. Angin laut berhembus lembut, seakan memberi ruang bagi puluhan hingga ratusan layang-layang Danguang untuk menari bebas di angkasa. Dari kejauhan, kain-kain raksasa berwarna-warni tampak bergantian naik, saling beradu angin, memancing decak kagum ribuan pasang mata yang menatap ke langit.
Di tanah lapang itulah, Tim Pesona Muda menggelar Mabar (Main Bareng) Layang-layang Danguang Sumbar–Riau, sebuah pertemuan besar para pencinta permainan tradisional yang kini kian jarang dijumpai. Kegiatan ini bukan sekadar ajang hobi, melainkan ruang temu lintas daerah untuk merawat ingatan kolektif tentang budaya yang hampir terlupakan.
Peserta datang dari berbagai penjuru. Tak sedikit yang menempuh perjalanan jauh dari Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, hanya demi satu tujuan: melepas rindu pada Danguang—layang-layang khas berukuran besar yang menuntut kesabaran, kekompakan, dan kekuatan tim.
Ukuran Danguang yang diterbangkan pun bukan main-main. Ada yang membentang beberapa meter, bahkan mencapai sekitar sembilan meter, menjulang gagah membelah langit. Untuk Danguang berkapasitas sangat besar, proses menerbangkannya tak bisa dilakukan sendirian. Hingga sepuluh orang harus bekerja bersama, menarik tali, mengatur arah, serta membaca karakter angin agar layang-layang raksasa itu dapat mengudara sempurna.
Sorak sorai pun pecah setiap kali satu Danguang berhasil naik penuh. Anak-anak berlarian riang, orang tua duduk bersila sambil menunjuk ke langit, sementara para pehobi saling bertukar cerita—tentang benang, rangka, hingga teknik membaca angin yang hanya bisa dipelajari lewat pengalaman.
Ketua komunitas pencinta dan pehobi layang-layang Danguang Pesona Muda, Noval, menyebut kegiatan ini lebih dari sekadar penyaluran hobi. “Ini bukan hanya soal layang-layang. Ini tentang silaturahmi, kebersamaan, dan menjaga budaya agar tidak hilang,” ujarnya kepada wartawan, Senin (9/2/2026).
Menurut Noval, Danguang adalah simbol kerja sama. Tak bisa diterbangkan sendirian, dan tak akan bertahan tanpa kekompakan. “Layang-layang Danguang mengajarkan kita tentang gotong royong. Karena itu kami ingin anak-anak muda ikut terlibat, melihat langsung, dan merasakan sendiri keseruannya,” katanya.
Antusiasme peserta yang mencapai ribuan orang menjadi bukti bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, meski zaman terus bergerak maju. Ulak’an Tapakih pun seketika berubah menjadi ruang pertemuan budaya—antara angin, langit, dan manusia yang sama-sama ingin menjaga warisan leluhur.
Menjelang senja, saat matahari mulai condong ke barat dan satu per satu Danguang diturunkan, tersisa harapan besar dari Pesona Muda: agar langit Ulak’an, dan langit-langit lain di Nusantara, tak pernah sepi dari tarian layang-layang tradisional.**








Kolom Komentar post