DURI, RIAU24JAM.COM — Meski imbauan larangan konvoi serta penggunaan kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi pada malam pergantian tahun telah gencar disosialisasikan oleh Pemerintah Daerah bersama jajaran Kepolisian, kenyataan di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Harapan agar masyarakat menahan diri demi menghormati daerah-daerah yang tengah dilanda bencana alam, nyatanya hanya menjadi seruan tanpa makna.
Pantauan di lapangan, Rabu (1/1/2026) dini hari, ratusan bahkan ribuan kembang api dengan suara ledakan keras tetap dinyalakan di hampir seluruh penjuru Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.
Sejumlah titik strategis seperti persimpangan jalan utama, kawasan permukiman padat penduduk hingga pusat keramaian berubah menjadi lautan cahaya kembang api yang berlangsung sejak jelang tengah malam hingga dini hari.
Padahal, imbauan tersebut secara tegas disampaikan sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap saudara-saudara di sejumlah wilayah yang masih berjuang menghadapi dampak bencana alam.
Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara hingga kini masih diselimuti duka akibat musibah yang menelan korban jiwa serta kerugian materi yang tidak sedikit.
Kondisi ini menuai keprihatinan dari sebagian warga Kota Duri. Mereka menilai euforia berlebihan pada malam pergantian tahun telah mengabaikan nilai empati dan solidaritas kemanusiaan.
“Terus terang kami sangat prihatin. Di saat saudara-saudara kita di Aceh, Sumbar, dan Sumut sedang berduka, di sini justru ramai pesta kembang api. Seharusnya kita bisa menahan diri dan menunjukkan empati,” ujar Rudi (45) dengan nada kecewa.
Hal senada disampaikan Siti Aisyah (38), warga Kecamatan Mandau lainnya. Ia menyebut imbauan pemerintah seolah tidak memiliki daya tekan yang kuat di tengah masyarakat.
“Kalau sudah ada imbauan resmi, mestinya dipatuhi. Ini bukan sekadar soal aturan, tapi soal rasa kemanusiaan. Jangan sampai kita terlihat abai terhadap penderitaan orang lain,” tuturnya.
Warga berharap ke depan pemerintah dan aparat penegak hukum dapat melakukan langkah yang lebih tegas dan persuasif, agar setiap kebijakan dan imbauan yang dikeluarkan tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar dipatuhi demi kepentingan bersama serta nilai-nilai kemanusiaan.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bahwa perayaan pergantian tahun seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai pesta dan euforia semata, melainkan juga momentum refleksi, empati, dan solidaritas terhadap sesama, terutama bagi mereka yang tengah tertimpa musibah.**







Kolom Komentar post