DURI, RIAU24JAM.COM – Gelombang pemberitaan dari tujuh awak media di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, yang menyoroti aktivitas pelansir bio solar di SPBU Hangtuah dan SPBU Sudirman, tampaknya mulai mengguncang kenyamanan para aktor di balik jaringan mafia BBM subsidi.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan reaksi keras dari salah satu bos mafia solar setelah praktik ilegal mereka terus disorot media.
Ancaman Muncul Setelah Liputan Menguat
Pada Sabtu (22/11/2025), ketika jurnalis melakukan pemantauan langsung di SPBU Hangtuah—lokasi yang selama ini diduga menjadi titik utama langsir bio solar—seorang bos mafia solar tiba-tiba menghubungi jurnalis Detak60.com, Andika Maratona.
Dalam rekaman percakapan telepon itu, terdengar jelas upaya membuka negosiasi yang dibungkus ancaman halus.
“Kalau memang bisa dibicarakan, kita bicarakan. Kalau tidak bisa dibicarakan, silakan saja… manusia itu punya cara masing-masing ya,” katanya.
Andika menegaskan bahwa ia tidak mengenal yang bersangkutan dan menolak ajakan bertemu yang diduga sebagai manuver intimidatif.
Intimidasi di Lapangan Kian Terang
Situasi di SPBU Hangtuah kian memanas. Pada Sabtu siang, jurnalis KabarDuri.net mengalami tindakan tidak terpuji dari seorang sopir pelansir mobil Panther yang terekam mengacungkan jari tengah ke arah wartawan yang sedang meliput aktivitas di area pengisian.
Tak hanya itu, seorang wanita berambut cepak yang mengendarai Toyota Fortuner juga mencoba menyusup ke jalur pengisian bio solar. Upaya yang diduga untuk kepentingan langsir tersebut digagalkan pengawas SPBU Hangtuah lantaran antrean pelansir sudah membludak.
Respons Keras dari Media
Ancaman terhadap jurnalis mendapat kecaman dari pemilik Jagariau.com, Hendra Setiawan. Ia menilai tindakan intimidatif tersebut menunjukkan bahwa pola premanisme masih menjadi cara operasi mafia BBM subsidi di Duri.
“Sudah basi cara-cara seperti ini. Silakan saja pakai cara sendiri. Kita sudah siap. Kalau perlu, kita ketemu di Polda saja,” tegasnya.
Media Berkomitmen Terus Mengawal
Sejumlah jurnalis menegaskan bahwa mereka akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial dalam mengungkap penyalahgunaan BBM subsidi. Praktik mafia solar tidak hanya merusak sistem distribusi, tetapi juga merugikan masyarakat yang berhak atas solar bersubsidi.
Investigasi ini menunjukkan bahwa setiap pemberitaan yang mendekati titik sensitif jaringan mafia BBM subsidi selalu diikuti dengan tekanan dan upaya intimidasi. Namun komitmen awak media untuk terus membuka tabir penyimpangan distribusi bio solar di Duri tidak akan surut.**








Kolom Komentar post