PEKANBARU, RIAU24JAM.COM – Kecemasan para ibu tentang berat badan anak yang tak kunjung naik pernah menjadi beban emosional tersendiri bagi kader posyandu di desa. Di tengah keterbatasan pengetahuan, mereka dituntut hadir sebagai garda terdepan. Namun kini, situasi itu mulai berubah dari kebingungan menjadi keyakinan berbasis pengetahuan.
“Dulu kami sering bingung dan sedih jika ada ibu-ibu mengeluh berat badan anaknya tidak naik. Kami ingin membantu, tapi minim ilmu,” ungkap Nurmayani Lubis, Kader Posyandu Sekar Melati 1, Desa Rimba Beringin, Tapung Hulu, Kampar, Rabu (15/4/2026).
Perubahan itu datang melalui Program PHR Peduli Stunting (PENTING) yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Lebih dari 200 kader posyandu kini mendapatkan pelatihan intensif, memperkuat kapasitas mereka dalam memantau tumbuh kembang balita dan kesehatan ibu hamil secara mandiri dan terukur.
“Setelah mengikuti pelatihan, kami jauh lebih paham dan percaya diri dalam memberikan edukasi nutrisi yang tepat kepada masyarakat,” lanjut Nurmayani.
Tak berhenti pada peningkatan kapasitas kader, intervensi konkret juga dilakukan. Program ini menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT/PKMK) kepada lebih dari 300 anak berisiko stunting serta lebih dari 90 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Hasilnya mulai terlihat nyata. Sekitar 90 persen balita yang mendapat intervensi mengalami kenaikan berat badan. Sebanyak 70 persen di antaranya kini masuk kategori status gizi baik berdasarkan indikator berat dan tinggi badan. Sementara itu, 82,2 persen ibu hamil dengan KEK berhasil mencapai indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) normal.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah perubahan yang lebih personal. Nova, salah satu orang tua penerima manfaat, mengaku kini lebih tenang menghadapi fase tumbuh kembang anaknya.
“Dulu saya selalu waswas setiap kali jadwal penimbangan. Berat badan anak saya sulit naik. Setelah rutin didampingi kader dan mendapat tambahan gizi, alhamdulillah nafsu makan anak saya meningkat dan timbangannya terus normal,” tuturnya.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan bahwa penanganan stunting bukan sekadar program, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
“Perjuangan kader seperti Ibu Nurmayani dan ketekunan para ibu adalah fondasi utama. Penanganan stunting merupakan investasi strategis untuk masa depan. PHR hadir sebagai fasilitator, memastikan semangat itu bertransformasi menjadi generasi Riau yang sehat, cerdas, dan produktif,” ujarnya.
Program ini telah berjalan di tujuh kabupaten/kota di Riau, termasuk wilayah operasional strategis PHR, dan terus diperluas. Upaya preventif juga digencarkan melalui edukasi kepada ratusan remaja putri, sebagai langkah dini memutus mata rantai stunting.
Dari meja-meja sederhana di posyandu desa, perlawanan terhadap stunting kini menemukan bentuknya: kolaborasi, edukasi, dan ketekunan. Sebuah ikhtiar kolektif yang tidak hanya menyelamatkan anak-anak hari ini, tetapi juga menentukan kualitas generasi masa depan Riau.
Tentang PT Pertamina Hulu Rokan (PHR)
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi di bawah Subholding Upstream, PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Berdiri pada 20 Desember 2018, PHR dipercaya pemerintah untuk mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021.
PHR melanjutkan pengelolaan blok strategis ini selama 20 tahun hingga 2041. Dengan wilayah operasi sekitar 6.200 km² yang mencakup tujuh kabupaten/kota di Provinsi Riau, Zona Rokan memiliki 80 lapangan aktif, lebih dari 11.300 sumur, dan 35 stasiun pengumpul.
Kontribusi Zona Rokan sangat signifikan, dengan produksi mencapai sekitar seperempat minyak mentah nasional. Selain itu, PHR juga menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian lingkungan.










Kolom Komentar post