Riau24jam.com – Daun-daun gugur menderai, pohon-pohon yang kemarin tinggi sudah lama ditebang. Kayu-kayunya masih ada di sana. Sedari tadi angin berhembus ganas. Daun-daun yang tadinya masih bertengger di ujung ranting, akhirnya terlepas juga.
Bunga-bunga yang sewaktu aku datang masih berbaris rapi, kini lemas tak beraturan. Di sisi langit barat, banyak awan yang menggantung berkerumun Abu-abu warnanya.
Matahari yang tadi seakan menyeringai panas, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai.
Angin bertambah kencang, air mulai turun perlahan. Saluran irigasi kembali pada pekerjaan semula. Aku pergi ke seberang jalan depan untuk berteduh di depan sebuah ruko di Jalan Desaharapan. Aku heran, pada cuaca seperti ini masih ada saja orang yang bepergian. Termasuk aku. Jalan kini basah kuyup dan banyak genangan air di sana-sini.
Awan bisa menjadi bentuk kekaguman dan syukur atas anugerah dari Sang Pencipta. Memandang awan di langit kerap memberikan ketenangan dan pikiran yang positif.
Awan merupakan suatu massa yang terdiri dari tetesan air atau kristal beku yang berada di atmosfer. Awan terlihat putih dan halus seperti kapas. Namun, awan juga bisa menjadi gelap dan tampak mengerikan ketika dipandang.
Jika dimaknai lebih dalam, awan sangat terkait dengan kesedihan. Pasalnya, ia merupakan uap air yang mengumpul, setelah penuh ia akan menumpahkannya ke bumi.
Hal itu seperti pribadi seseorang yang menahan emosinya, ketika sudah tak kuat menahannya, tak sadar air mata akan meleleh membasahi pipi.
Ingatlah, di balik awan yang hitam selalu ada matahari.








Kolom Komentar post