INDRAMAYU, RIAU24JAM.COM – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menegaskan, transformasi dan streamlining di lingkungan Pertamina Subholding Upstream harus menjadi momentum untuk memperkuat kapabilitas strategis Pertamina, termasuk kemampuan pengeboran nasional.
Dalam konteks tersebut, PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dinilai memiliki modal strategis berupa kompetensi, pengalaman, sumber daya manusia, teknologi, serta skala operasi yang kuat untuk dikembangkan menjadi National Drilling Champion Indonesia.
Penguatan kapabilitas pengeboran menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan produksi migas, penemuan cadangan baru, keberlanjutan operasi hulu, sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Pandangan itu mengemuka dalam Sarasehan Energi HUT ke-16 Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) yang digelar di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) PDSI, Mundu, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).
Forum tersebut dihadiri Presiden FSPPB Arie Gumilar, sejumlah aktivis dan pengamat energi nasional, di antaranya Ugan Gandar, Sofyano Zakaria, Ferdinand Hutahaean, Salamuddin Daeng, Marwan Batubara, Ketua Umum SP PDSI, serta perwakilan serikat pekerja konstituen FSPPB.
Sarasehan membahas masa depan bisnis pengeboran, transformasi Pertamina Subholding Upstream, ketahanan energi, serta posisi strategis PDSI dalam ekosistem hulu migas nasional.
Presiden FSPPB Arie Gumilar menegaskan, FSPPB mendukung setiap langkah transformasi Pertamina sepanjang dilakukan berdasarkan rasionalitas bisnis dan diarahkan untuk menjadikan Pertamina semakin kuat, efisien, produktif, terintegrasi, serta memiliki daya saing tinggi.
“Streamlining tidak boleh berhenti pada pengurangan struktur atau peleburan entitas. Ukurannya adalah apakah transformasi tersebut menghasilkan Pertamina yang lebih kuat, lebih efisien, lebih produktif, lebih andal, serta mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan, negara, dan rakyat Indonesia,” ujar Arie.
Menurut FSPPB, pengeboran merupakan salah satu kapabilitas paling strategis dalam mata rantai bisnis hulu migas.
Ketahanan energi tidak semata ditentukan oleh besarnya sumber daya migas yang dimiliki Indonesia. Sumber daya tersebut harus mampu ditemukan, dibuktikan, dikembangkan, dibor, diproduksikan, dan dijaga keberlanjutannya melalui dukungan teknologi serta sumber daya manusia yang mumpuni.
Karena itu, kemampuan pengeboran harus ditempatkan sebagai strategic capability, bukan sekadar fungsi penunjang atau komponen biaya dalam kegiatan hulu migas.
Menjaga Intellectual Capital Pengeboran Nasional
FSPPB menilai salah satu aset terpenting PDSI bukan hanya rig dan peralatan pengeboran, melainkan intellectual capital yang dibangun Pertamina selama puluhan tahun.
Kapabilitas tersebut mencakup pengalaman operasional, engineering, budaya HSSE, penguasaan teknologi pengeboran, project management, pemahaman terhadap karakteristik berbagai lapangan migas, hingga akumulasi lessons learned dari beragam operasi pengeboran di Indonesia.
Pengetahuan tersebut tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun melalui perjalanan panjang dan diwariskan dari satu generasi insan drilling kepada generasi berikutnya.
“Yang harus kita jaga bukan hanya rig atau aset fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah ekosistem pengetahuan dan kompetensi yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun. Engineering capability, pengalaman operasi, teknologi, HSSE culture, dan insan drilling adalah strategic intellectual capital bangsa,” tegas Arie.
Keberadaan Indonesia Drilling Training Center (IDTC) menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan kapabilitas tersebut.
Melalui pelatihan, asesmen, sertifikasi, serta pengembangan kompetensi yang terstruktur, IDTC memiliki posisi strategis untuk memastikan regenerasi dan kesiapan insan pengeboran menghadapi operasi yang semakin kompleks, dengan tuntutan keselamatan, keandalan, efisiensi, dan penguasaan teknologi yang terus meningkat.
Skala Operasi Menjadi Kekuatan Strategis
Selain kompetensi sumber daya manusia, PDSI memiliki kekuatan pada skala operasinya. Dengan armada 58 unit rig, PDSI memiliki kapasitas untuk mendukung kegiatan pengeboran, baik onshore maupun offshore, di berbagai wilayah operasi.
Skala tersebut membuka ruang untuk menciptakan economies of scale, meningkatkan utilisasi aset, memperkuat standardisasi operasi dan HSSE, meningkatkan efisiensi biaya, mempercepat mobilisasi, sekaligus mengintegrasikan penerapan teknologi dan digitalisasi.
Dalam perspektif FSPPB, konsolidasi kapabilitas pengeboran dalam satu entitas yang memiliki fokus, kompetensi, skala, dan pengalaman justru dapat menjadi instrumen penting untuk mencapai tujuan streamlining Pertamina.
“Efisiensi bukan berarti menghilangkan capability. Efisiensi adalah bagaimana capability yang kita miliki dikonsolidasikan, dioptimalkan, dan dibuat semakin produktif. Dengan skala yang kuat, PDSI mempunyai ruang besar untuk menjadi center of excellence pengeboran Pertamina sekaligus Indonesia,” ujar Arie.
PDSI sebagai National Drilling Champion
FSPPB memandang konsep National Drilling Champion bukan semata-mata mengenai besarnya perusahaan atau banyaknya aset yang dikelola.
Lebih dari itu, National Drilling Champion merupakan representasi kemampuan nasional dalam menyediakan solusi pengeboran yang aman, andal, efisien, kompetitif, berteknologi maju, adaptif, terintegrasi, serta mampu menangani berbagai tingkat kompleksitas lapangan.
PDSI juga didorong untuk terus memperkuat kemampuan one stop drilling solution, integrated project management, associated drilling services, teknologi pengeboran, digital drilling, hingga kemampuan menangani operasi di wilayah dengan tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.
Dalam jangka panjang, kapabilitas tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Pertamina Group dan industri migas nasional, tetapi juga harus memiliki daya saing untuk menembus pasar internasional.
“National Drilling Champion bukan tentang membesarkan satu perusahaan untuk kepentingan perusahaan itu sendiri. Ini adalah tentang membangun dan menjaga strategic national capability,” kata Arie.
Ia menegaskan, negara yang ingin memiliki ketahanan energi harus menguasai kemampuan menemukan cadangan, mengebor, mengembangkan lapangan, dan menjaga keberlanjutan produksi.
“Semakin kuat kemampuan drilling Pertamina, semakin kuat pula kemampuan Indonesia menjaga keberlanjutan produksi migas dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain,” lanjutnya.
Transformasi Harus Memperkuat Kapabilitas, Bukan Menghilangkannya
FSPPB menegaskan dukungannya terhadap transformasi Pertamina dan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses streamlining Subholding Upstream.
Namun, setiap desain transformasi harus dibangun berdasarkan kajian bisnis yang objektif, transparan, terukur, serta mempertimbangkan operational excellence dan kepentingan jangka panjang Pertamina.
Transformasi juga harus memastikan tidak terjadi hilangnya kompetensi, fragmentasi pengetahuan, penurunan operational capability, maupun pelemahan kemampuan strategis yang telah dibangun selama puluhan tahun.
“Kami mendukung perubahan yang membuat Pertamina semakin baik. Tetapi transformasi harus memperkuat capability, bukan justru menghilangkannya. Kompetensi yang sudah dibangun puluhan tahun harus menjadi fondasi untuk membawa Pertamina naik kelas,” tegas Arie.
Menurut FSPPB, penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion juga sejalan dengan tantangan industri hulu migas Indonesia ke depan.
Peningkatan produksi nasional akan membutuhkan aktivitas eksplorasi dan pengeboran yang semakin agresif, termasuk pengembangan lapangan mature, eksplorasi new frontier, deepwater, unconventional resources, serta wilayah dengan tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.
Karena itu, Indonesia membutuhkan perusahaan pengeboran nasional yang memiliki technology ownership, operational excellence, tenaga kerja terampil, kekuatan finansial, serta kemampuan project execution berkelas dunia.
“Visinya harus lebih jauh. PDSI jangan hanya menjadi drilling company Pertamina. Kita harus membangun PDSI menjadi National Drilling Champion Indonesia yang suatu saat berdiri sejajar dengan perusahaan drilling kelas dunia,” pungkas Arie.
FSPPB meyakini penguatan PDSI sebagai National Drilling Champion merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperkuat Pertamina sebagai perusahaan energi nasional yang terintegrasi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan produksi migas, menjaga ketahanan energi, sekaligus memastikan kemampuan strategis dalam pengelolaan energi tetap dimiliki, dikuasai, dan terus dikembangkan oleh bangsa Indonesia.***








Kolom Komentar post