TANGERANG, RIAU24JAM.COM — Program pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu fokus utama yang ditampilkan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam ajang IPA Convention and Exhibition (Convex) 2026 melalui booth SKK Migas sektor Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Sr Manager CSR PHE, Elvina Winda Sagala menegaskan, kehadiran berbagai mitra binaan di ajang industri migas terbesar di Asia Tenggara itu menjadi bukti bahwa operasional hulu migas tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga berjalan selaras dengan pertumbuhan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasi.
Menurutnya, perusahaan membangun harmonisasi antara keberlangsungan bisnis migas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan berkelanjutan.
“Bisnis operasi migas tidak berjalan sendiri. Masyarakat juga harus ikut tumbuh bersama perusahaan. Karena itu yang kami bangun adalah harmonisasi antara operasi hulu migas dengan pertumbuhan masyarakat,” ujarnya.
Dalam ajang IPA Convex tersebut, PHE turut menghadirkan sejumlah mitra binaan untuk memperkenalkan produk unggulan mereka kepada pengunjung, pelaku industri, hingga calon mitra bisnis dari berbagai daerah. Langkah tersebut dinilai sebagai ruang strategis untuk memperluas eksposur UMKM binaan sekaligus memperkuat jejaring pasar.
“Ajang ini sangat luas dan komprehensif. Harapannya para mitra binaan bisa bertemu peluang pasar baru, calon partner bisnis, serta meningkatkan confidence level mereka,” katanya.
Elvina menegaskan, program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) diprioritaskan bagi warga di sekitar wilayah operasi atau kawasan ring satu. Kebijakan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat yang paling terdampak aktivitas industri migas.
“Kalau perusahaan beroperasi di suatu wilayah, tentu masyarakat sekitar harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai masyarakat yang paling terdampak justru belum terberdayakan,” tegasnya.
Selain fokus pada penguatan ekonomi masyarakat, PHE juga mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis komunitas melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sejumlah wilayah operasi. Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memanfaatkan potensi energi surya sebagai sumber energi produktif.
“Pemanfaatan PLTS bukan sekadar untuk penerangan, tetapi juga membantu kegiatan ekonomi masyarakat dan UMKM agar lebih produktif,” jelas Elvina.
Program energi terbarukan itu turut diterapkan di sektor pendidikan melalui “Sekolah Energi Berkelanjutan” yang telah berjalan di delapan sekolah di wilayah operasi perusahaan. Selain membantu kebutuhan listrik sekolah, program tersebut juga menjadi sarana edukasi mengenai pemanfaatan energi bersih dan transisi energi kepada siswa dan masyarakat.
Sementara itu, Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatera, Iwan Ridwan Faizal menyebutkan hingga 2025 jumlah penerima manfaat langsung program pemberdayaan masyarakat di wilayah Sumatera telah mencapai lebih dari 10 ribu orang.
Jumlah tersebut berasal dari berbagai program yang tersebar di seluruh wilayah operasi migas mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi hingga Banyuasin.
“Kalau dihitung keseluruhan, penerima manfaat langsung lebih dari 10 ribu orang karena seluruh field di Sumatera memiliki program pemberdayaan,” ujarnya.
Selain individu penerima manfaat, perusahaan juga membina lebih dari 200 kelompok pemberdayaan masyarakat di Sumatera yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari inkubasi usaha, UMKM, pendidikan, posyandu hingga penguatan kapasitas masyarakat berbasis komunitas.
Menurut Iwan, pembinaan UMKM dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga memperkuat manajemen usaha, kualitas produk, strategi pemasaran, pengemasan, hingga akses pasar digital melalui platform Superstore milik Pertamina.
“Yang kita dorong bukan sekadar usaha berjalan, tetapi bagaimana UMKM ini benar-benar punya daya saing dan bisa mandiri,” jelasnya.
Keberhasilan program pemberdayaan, lanjutnya, tidak hanya diukur dari peningkatan omzet, tetapi juga pertumbuhan profit usaha sebagai indikator utama kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kalau profit terus meningkat dan mereka mampu berjalan sendiri tanpa ketergantungan bantuan, berarti program itu berhasil,” katanya.
PHE juga mendorong agar produk UMKM binaan mampu masuk ke rantai pasok industri berskala besar. Salah satu contohnya berasal dari wilayah Rokan, di mana UMKM binaan berhasil mengembangkan produk coverall dengan standar industri.
“Yang paling ideal adalah ketika produk binaan bisa masuk ke supply chain industri. Itu menunjukkan mereka sudah naik kelas,” tambahnya.
Di Regional 1 Sumatera, program CSR PHE mencakup lima provinsi dengan enam wilayah operasi, yakni North Sumatera Offshore (NSO) di Lhokseumawe, Pangkalan Susu di Sumatera Utara, Rantau Field di Aceh Tamiang, Lirik di Riau, serta Jambi dan Jambi Merang. Setiap wilayah memiliki karakteristik program berbeda sesuai hasil social mapping dan kebutuhan masyarakat setempat.
Di Aceh Tamiang misalnya, perusahaan dikenal dengan program ramah disabilitas, sementara di Lhokseumawe terdapat program “Inong Balee” yang memberdayakan perempuan korban konflik Aceh melalui usaha berbasis kakao.
Adapun di Jambi, perusahaan mengembangkan program “Melapas” untuk pemberdayaan perempuan melalui produksi batik dan penguatan UMKM lokal, termasuk pengembangan produk turunan ikan patin.
Sementara di Riau, program pemberdayaan berkembang pada sektor makanan olahan, kerajinan, hingga pengolahan sampah bernilai ekonomi. Produk-produk binaan tersebut bahkan dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan industri dan pasar yang lebih luas.
Tak hanya fokus pada ekonomi, program CSR PHE di Aceh juga diarahkan untuk membangun ketangguhan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana dan situasi krisis.
Hal itu terlihat ketika sejumlah mitra binaan terdampak banjir, namun mampu bangkit kembali dan melanjutkan usaha mereka setelah mendapatkan penguatan kapasitas dan pendampingan berkelanjutan.
“Ketangguhan itu penting. Ketika masyarakat punya resilience, mereka tidak hanya mampu bangkit sendiri, tetapi juga mengajak orang lain untuk bangkit bersama,” tutup Iwan.
(rb/r24j)





Kolom Komentar post