DURI, RIAU24JAM.COM — Udara pagi masih terasa dingin, namun suasana di sejumlah ruas jalan justru memanas. Bukan oleh obrolan santai selepas sahur, melainkan raungan knalpot racing atau knalpot brong yang memecah keheningan waktu subuh.
Sekelompok remaja terlihat berkumpul di badan jalan. Sepeda motor disusun di garis start dadakan, sementara seorang rekan berdiri di tengah jalan memberi aba-aba. Dalam hitungan detik, mesin digeber penuh dan para pelaku balap liar melesat adu kecepatan di jalan raya yang masih relatif sepi.

Fenomena ini dikenal dengan sebutan Asbuh (Asmara Subuh). Awalnya hanya menjadi ajang berkumpul selepas sahur selama bulan Ramadhan. Namun seiring waktu, aktivitas tersebut bergeser menjadi balap liar dan aksi ugal-ugalan yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Situasi semakin parah ketika kerumunan remaja terlibat aksi saling melempar petasan, saling membully, hingga adu kebut motor secara liar. Aksi tersebut terjadi tepat di depan gedung Ramayana Duri, Minggu (22/2/2026) sekira pukul 05.40 Wib.

Ratusan remaja dilaporkan tumpah ruah ke badan jalan hingga menyebabkan arus lalu lintas di sekitar lokasi mengalami kemacetan parah. Sejumlah pengendara yang mencoba melintas justru mendapat sorakan. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi sasaran lemparan batu dari arah massa, memicu kepanikan di tengah jalan.
Tidak berhenti sampai di situ, gesekan antarkelompok kembali terjadi setelah balap liar berlangsung. Adu mulut berujung perkelahian, disertai aksi lempar batu yang semakin memperkeruh suasana dan mengancam keselamatan warga sekitar.

Di tengah kondisi yang kian memanas, belasan personel Polres Bengkalis dari Satuan Lalu Lintas bersama Polsek Mandau tiba di lokasi dengan berpakaian preman. Kehadiran petugas tersebut membuat kerumunan remaja mulai tercerai-berai. Melihat aparat datang, para remaja panik dan berhamburan ke berbagai arah. Situasi pun berubah kocar-kacir sebelum akhirnya berhasil dikendalikan.
Salah seorang warga, Rio, mengaku resah dengan kejadian yang terus berulang tersebut. Setiap subuh suasananya seperti ini. Awalnya cuma nongkrong, tapi lama-lama balapan, lempar petasan, sampai lempar batu.
“Aksi Asbuh yang berujung balap liar, tawuran, dan pelemparan batu tersebut sangat meresahkan. Selain mengganggu ketertiban umum dan kelancaran lalu lintas, aksi itu juga berpotensi menimbulkan korban jiwa serta mengganggu kekhusyukan ibadah subuh di bulan suci,” ujar Rio.
Ia berharap aparat kepolisian rutin melakukan patroli dan penindakan tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Kalau dibiarkan, bisa jatuh korban. Ini jalan umum, bukan arena balap. Apalagi bulan Ramadhan, harusnya diisi dengan kegiatan positif.
“Patroli dan penegakan hukum terus ditingkatkan pada jam-jam rawan menjelang pagi, disertai pembinaan serius terhadap generasi muda agar momentum Ramadhan diisi dengan kegiatan yang lebih positif dan bermakna,” tambahnya.(*)








Kolom Komentar post