Riau24jam – Jurnalis itu adalah profesi yang unik. Tidak perlu sekolah khusus untuk bisa jadi seorang pewarta. Walaupun banyak jurnalis yang menempuh pendidikan formal dulu sebelum menyandang gelar wartawan.
Namun lebih banyak yang jadi wartawan tanpa lulus pendidikan khusus jurnalistik. Ilmunya darimana? ya dari belajar otodidak, atau nekat saja menjadi wartawan.
Saya salah satunya atau anda, jangankan kuliah di jurusan jurnalistik, Namun telah berprofesi sebagai jurnalis.
Dulu buku adalah sumber utama belajar segala ikhwal jurnalistik. Diskusi bersama teman-teman wartawan lainnya adalah cara untuk memperdalam mengenai jurnalisme dan praktik-praktiknya.
Mengikuti berbagai pelatihan adalah cara lain untuk menambah pengetahuan dan kemampuan dalam bidang jurnalistik.
Internet yang semakin mudah diakses, kini menjadi sarana alternatif untuk terus belajar mengenai profesi ini. Dan tentunya proses belajar yang paling utama adalah praktik liputan.
Pelatihan bagaimana meliput isu keberagaman, Bagaimana memahami konflik dan sumber pemicunya, lalu memposisikan sikap netral saat meliput tentang sebuah konflik.
Tujuannya adalah memahami prinsip jurnalisme damai. Jurnalis harus mencegah dirinya memihak pada kelompok sesuai dengan orientasi ideologinya.
Jurnalis dituntut berdiri di tengah-tengah, berimbang dalam laporannya. Sebab, dalam banyak kasus liputan konflik, jurnalis sadar atau tidak, justru menjadi ‘provokator’, ikut menghangatkan situasi.
Menyiram bensin pada kelompok yang bertikai lewat tulisannya. Pemilihan frase, kalimat dan terminologi harus benar-benar dipahami dalam semangat peace journalism.
Ini tidak mudah. Sebab, dalam praktiknya kebijakan News Room baru menurunkan jurnalis saat ekskalasi konflik sudah hampir mencapai puncaknya.
Alasannya sederhana, mengejar perhatian pembaca. Dalam praktik media cyber, saat ini, traffic adalah dewanya. Berita harus mampu memancing jutaan klik.
Padahal, peace journalism mengajarkan jurnalis harus hadir saat konflik mulai terdeteksi. Liputan tidak hanya melihat persoalan di permukaan, tetapi jurnalis dituntut mencari tahu akar persoalannya.
Ini tentu butuh keterampilan dan pengetahuan yang luas. Memahami konflik sampai ke akar-akarnya bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kapasitas seorang jurnalis yang tidak hanya sekedar tahu menulis talking news.
Disamping itu, jurnalis yang meliput isu konflik juga harus didukung dengan resource yang mumpuni. Dia tak mesti bekerja sendiri, Menciptakan jejaring adalah hal yang paling utama.
Pagar utama dalam liputan konflik yang berorientasi pada solusi dan semangat toleransi keberagaman tentu adalah kode etik jurnalis.
Memahami kode etik adalah sebuah sikap rendah hati dari seorang jurnalis. Dia akan terhindar dari jumawa dan tahu diri bahwa dia bekerja demi kepentingan publik bukan untuk dirinya sendiri atau kelompoknya. Apapun yang dihadapi di lapangan saat liputan, semuanya harus diuji dengan kode etik itu.
Namun, ada satu hal yang penting bagi seorang jurnalis saat terjebak dalam dilema, apakah sebuah berita yang patut ditayangkan atau tidak, hati nurani. Dia bisa bertanya pada nuraninya, apakah berita yang akan ditulisnya berguna bagi publik atau tidak.
Hati nurani akan menjadi benteng terakhir kala semua regulasi, pagar dan etika tidak bisa memberi jalan keluar. Jurnalis patut menguji hati nuraninya. Tentu hati nurani yang murni, yang tidak terdistorsi.
Mencapai titik itu tentu butuh pengalaman spritual, butuh hati yang bersih dalam menilai ketidakberpihakan komunal. Jurnalis memang tidak bisa independen sepenuhnya. Dia harus berpihak. Berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik. Berpihak pada kebenaran hanya bisa dicapai jika jurnalis memahami apa itu humanisme.
Dilihat dari sisi doktrin, humanisme adalah doktrin universal yang cakupannya mencapai seluruh etnisitas manusia. Humanisme adalah jalan keluar saat berhadapan dengan sistem-sistem etika tradisional yang bersifat komunal.
Pemahaman terhadap paham humanisme semestinya menjadi landasan bagi jurnalis saat meliput isu keberagaman. Dengan memahami humanisme yang benar pada akhirnya akan menghasilkan reportase yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya kehidupan yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan dan pengabdian terhadap kepentingan sesama umat manusia.
Menjadi jurnalis itu gampang, tetapi menjadi humanis itu yang perlu pembelajaran.








Kolom Komentar post