BENGKALIS, RIAU24JAM.COM — Di tengah tuntutan akurasi dan verifikasi, ruang publik justru disiram kalimat yang merendahkan. Seorang oknum anggota DPRD Bengkalis, Tantowi Saputra Pangaribuan diduga melontarkan pernyataan, “media sampah kalau gak tau fakta jangan buat berita”, sebagaimana beredar dalam tangkapan layar Story WhatsApp.
Ini bukan kritik, ini pelabelan yang kasar. Sebuah cara instan untuk menutup perdebatan tanpa membuka data. Alih-alih menjernihkan, pernyataan itu seperti menendang meja diskusi, lalu menyebut semua yang tersisa sebagai kotoran.
Ironinya, pernyataan itu muncul di tengah dinamika pemberitaan kecelakaan yang masih dalam proses pengumpulan fakta. Dalam fase seperti itu, jurnalisme bekerja di bawah tekanan waktu dan keterbatasan informasi, namun tetap terikat pada prinsip verifikasi dan koreksi. Kesalahan, jika ada, diperbaiki dengan data bukan dibungkam dengan caci maki.
Menyebut media “sampah” bukan sekadar kata; ia adalah refleksi cara pandang yang alergi terhadap kontrol publik. Ibarat menutup mata di siang bolong lalu menuduh matahari yang berlebihan. Atau lebih telanjang lagi: saat fakta belum sepenuhnya berpihak, maka yang diserang adalah pembawanya.
Kritik yang sehat menguji isi berita. Stigma seperti ini justru mengubur substansi. Ia tidak membangun akurasi, hanya membangun kebisingan. Dan dalam kebisingan, kebenaran selalu menjadi korban pertama.
Saat dikonfirmasi Riau24jam.com melalui pesan WhatsApp, Selasa (31/3/2026) Tantowi Saputra Pangaribuan belum memberikan jawaban. Sunyi yang muncul justru mempertegas satu hal: ketika ruang klarifikasi tersedia, memilih diam seringkali lebih bising daripada kata-kata itu sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak yang bersangkutan. Namun satu hal sulit dibantah: dalam demokrasi, pers boleh salah dan wajib dikoreksi, tetapi tidak untuk dihina. Karena ketika pejabat memilih merendahkan, yang jatuh bukan hanya media melainkan standar etika itu sendiri.
Pada akhirnya, publik tidak butuh suara yang paling kasar. Publik butuh fakta yang paling jujur. Dan sejarah selalu mencatat: yang menolak diuji oleh kebenaran, biasanya lebih takut pada terang daripada salah.
(rb/r24j)








Kolom Komentar post