Riau24jam.com – Di tengah riuhnya kehidupan sosial dan ekonomi hari ini, ada satu ungkapan lama yang terasa semakin relevan: “kapal pecah, hiu kenyang.” Sebuah metafora yang menggambarkan ironi kehidupan ketika musibah atau kerja keras seseorang justru menjadi santapan empuk bagi pihak lain yang tidak ikut berjuang.
Realitas ini tidak hanya hidup dalam cerita laut atau peribahasa lama. Ia hadir dalam banyak lapisan kehidupan modern. Ketika sebagian orang mengayuh perahu di tengah badai, mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan masa depan, ada pula yang berdiri di tepi pantai, menunggu kapal itu karam agar bisa menikmati sisa-sisa hasilnya.
Fenomena ini mencerminkan wajah ketimpangan yang kerap terjadi dalam berbagai sektor. Dalam dunia kerja misalnya, tidak jarang mereka yang berada di garis depan yang berkeringat, yang berjibaku dengan risiko justru bukan yang menikmati hasil terbesar. Ada struktur yang kadang membuat kerja keras menjadi milik satu pihak, sementara keuntungan mengalir ke pihak lain yang hanya pandai membaca situasi.
Lebih ironis lagi, dalam beberapa keadaan, mereka yang menunggu di tepi pantai bukan sekadar penonton. Mereka adalah para “hiu” yang sabar menunggu. Mereka tidak perlu ikut berjuang menghadapi badai, karena mereka tahu bahwa setiap kapal yang pecah akan menyisakan sesuatu untuk dimakan.
Di sinilah persoalan moral dan keadilan sosial menjadi penting untuk direnungkan. Sebuah masyarakat yang sehat seharusnya memberi ruang yang adil bagi setiap orang untuk menikmati hasil dari jerih payahnya. Kerja keras seharusnya berbanding lurus dengan penghargaan dan kesejahteraan yang diterima.
Namun kenyataan sering berkata lain. Ada yang bekerja tanpa henti, tetapi tetap berada di garis pinggir kehidupan. Sementara ada pula yang hanya memanfaatkan momentum, jaringan, atau posisi, tetapi mampu menikmati hasil yang jauh lebih besar.
Ungkapan “kapal pecah, hiu kenyang” pada akhirnya bukan sekadar kritik, tetapi juga peringatan. Bahwa dalam kehidupan bersama, jika ketimpangan ini terus dibiarkan, maka rasa keadilan akan terkikis perlahan. Ketika orang-orang yang mengayuh di tengah badai merasa jerih payahnya selalu dimakan oleh para hiu, maka semangat untuk berjuang pun bisa memudar.
Karena itu, ke depan kita perlu membangun sistem yang lebih adil di mana mereka yang bekerja keras tidak selalu menjadi korban keadaan, dan mereka yang menunggu di tepi pantai tidak selalu menjadi pihak yang paling kenyang.
Sebab pada akhirnya, sebuah peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang dipenuhi hiu yang menunggu kapal pecah. Melainkan peradaban yang menghargai setiap tangan yang mengayuh, setiap keringat yang jatuh, dan setiap perjuangan yang dilakukan di tengah badai kehidupan.
(rb/r24j)








Kolom Komentar post