Riau24jam.com – Di tengah dinamika kehidupan berorganisasi, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di kalangan anggota: untuk apa bergabung jika organisasi tidak mampu mensejahterakan anggotanya? Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan emosional, tetapi refleksi dari realitas yang dirasakan sebagian anggota di berbagai lini organisasi.
Fenomena berpindah-pindah organisasi “gabung sana, gabung sini” sering kali dilakukan dengan harapan menemukan wadah yang mampu memberikan perlindungan, peluang, serta kesejahteraan bagi para anggotanya. Namun ketika harapan itu tidak terwujud, maka kepercayaan pun mulai memudar.
Sebagian anggota mulai mempertanyakan arah dan tujuan organisasi. Apakah organisasi dibangun untuk memperkuat kebersamaan dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya, atau justru hanya menjadi panggung untuk membesarkan nama para nahkodanya?
Kritik semacam ini bukan hal baru dalam dunia organisasi. Dalam banyak kasus, struktur organisasi yang seharusnya menjadi alat kolektif untuk memperjuangkan kepentingan bersama justru berubah menjadi kendaraan kepentingan segelintir orang. Anggota menjadi pelengkap, sementara arah organisasi lebih banyak ditentukan oleh kepentingan elit di pucuk pimpinan.
Padahal, idealnya organisasi hadir sebagai rumah bersama tempat anggota saling menopang, saling menguatkan, dan saling melindungi ketika menghadapi persoalan. Ketika fungsi ini tidak berjalan, maka wajar jika sebagian anggota memilih untuk mengambil sikap lebih mandiri.
“Kalau hanya untuk membesarkan nahkodanya, maaf saja,” begitu kira-kira nada kritik yang muncul dari akar rumput. Ungkapan ini mencerminkan kegelisahan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Di tengah kondisi seperti itu, muncul pula kesadaran baru: berdiri di kaki sendiri. Sebuah sikap yang lahir dari pengalaman bahwa ketika masalah datang, tidak selalu organisasi mampu hadir sepenuhnya membela atau menopang anggotanya.
Realitas ini tentu menjadi cermin bagi banyak organisasi. Bahwa kepercayaan anggota tidak bisa hanya dibangun melalui simbol, slogan, atau struktur formal. Kepercayaan lahir dari keberpihakan nyata dari sejauh mana organisasi benar-benar hadir untuk anggotanya.
Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi nama besar tanpa makna. Sebuah kapal besar dengan nahkoda yang dielu-elukan, tetapi awaknya dibiarkan berjuang sendirian di tengah gelombang.
(rb/r24j)








Kolom Komentar post