RIAU24JAM.COM – China kian hari semakin agresif dalam perselisihan di Laut Natuna Utara melawan Amerika Serikat dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Demi memperkuat angkatan militernya, China bahkan baru saja mengesahkan Undang-Undang yang memperbolehkan penjaga pantai di wilayah perairan Luat Natuna Utara untuk menembaki kapal asing yang berani masuk.
Belum lagi China terpantau cepat bergerak melatih pasukan militer di darat, air, maupun udara demi mempersiapkan keamanan negara jika sewaktu-waktu perang meletus.
China bahkan disebut telah memproduksi sejumlah senjata untuk memperkuat angkatan militer mereka.
Aksi China itu tentu membuat negara-negara yang selama ini berselisih seperti AS dan beberapa negara di Asia semakin terpojok.
Tak pelak AS menggaet negara-negara yang bersengketa dengan China untuk dijadikan sekutu melawan negeri tirai bambu tersebut.
Beberapa waktu lalu AS mengecam tindakan China yang memperbolehkan penjaga pantai menembaki kapal di perairan Laut Natuna Utara.
Sebagaimana diberitakan Express sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS merasa khawatir Undang-Undang tersebut akan dimanfaatkan untuk mengintimidasi tetangga maritim China.
Pada Jumat, 19 Februari 2021 lalu juru bicara Deplu AS, Ned Price mengatakan rencana diplomatik Washington dengan negara tetangga maritim China.
“AS akan bergabung dengan Filipina, Vietnam, Indonesia, Jepang, dan negara-negara lain dalam menyatakan keprihatinannya terhadap UU penjaga pantai yang baru-baru ini diberlakukan China,” ujar Price.
Menurut Price bentuk intimidasi yang dilakukan China tak lain adalah mengesahkan UU penjaga pantai demi menghancurkan struktur ekonomi negara lain, serta menggunakan kekuatan dalam mempertahankan klaim maritim China di wilayah yang disengketakan.
Para pengamat menilai jika ketegangan antara China dan AS tidak kunjung membaik, meski pemimpin AS telah berganti dengan Joe Biden.
Bulan lalu AS telah memperingatkan China untuk berhenti mengintimidasi Taiwan, setelah pesawat tempur China terbang ke zona pertahanan udara pulau tersebut, selama beberapa hari berturut-turut.
Pasukan China bahkan berani mensimulasikan serangan terhadap kapal induk AS di wilayah tersebut.
AS memang mengirim dua kapal induk ke perairan yang disengketakan, untuk melatih pasukan militer mereka.
Bahkan kapal induk AS itu disusul dengan kapal induk milik Prancis dan Inggris.
Pergerakan militer AS di perairan yang disengketakan tak membuat China takut atau bahkan minder.
Hal itu dilakukan China seiring klaim atas kedaulatan Taiwan yang telah memisahkan diri selama tujuh dekade.
China mengutuk Taiwan dan menyebut jika negara tersebut menyatakan kemerdekaan, berarti peperangan akan dimulai.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian mengatakan pada sebuah jumpa pers, bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari China.
Sumber : PikiranRakyat
Kolom Komentar post